Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/8/2026), tertekan oleh kombinasi kehati-hatian pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), dinamika geopolitik Timur Tengah, serta tingginya permintaan devisa domestik.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09% ke level Rp 17.877 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan data Trading Economics, rupiah berada di level Rp 17.873 per dolar AS atau melemah 0,28%, sedangkan menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.876 per dolar AS atau melemah 0,29% dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.824 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melamh ke Rp 17.877 Per Dolar AS Hari Ini (12/8), Asia Bervariasi
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menuturkan bahwa pelemahan rupiah pada Rabu (12/8) tidak sepenuhnya didorong oleh penguatan dolar AS secara global, mengingat indeks dolar (DXY) hanya bergerak naik tipis dari 99,828 ke level 99,859.
Menurut Syafruddin, pasar cenderung menahan posisi menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Juli yang sangat krusial dalam mengubah ekspektasi arah suku bunga acuan The Fed secara cepat.
"Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah ikut meningkatkan persepsi risiko bagi mata uang negara pengimpor energi," ujar Syafruddin kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Untuk perdagangan Kamis (13/8), Syafruddin mengidentifikasi lima sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan rupiah secara bersamaan.
Faktor penentu paling dominan adalah respons pasar global terhadap rilis data CPI AS, di mana inflasi yang melandai berpotensi menekan DXY dan imbal hasil (yield) US Treasury sehingga membuka ruang penguatan rupiah.
Selain itu, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia, tren mata uang kawasan Asia, arus modal asing di instrumen SBN, SRBI, dan saham, serta antisipasi pasar terhadap rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS.
Dari sisi kebijakan moneter domestik, penahanan suku bunga BI-Rate di level 5,75% serta penguatan instrumen SRBI oleh Bank Indonesia dinilai mampu menjaga daya tarik aliran modal asing dan menopang stabilisasi nilai tukar.
Syafruddin menilai bias pergerakan rupiah pada Kamis cenderung stabil dengan peluang penguatan terbatas, selama rilis inflasi AS tidak memicu lonjakan baru pada dolar AS dan yield Treasury.
Untuk proyeksi besok Kamis (13/8/2026), Syafruddin memprediksi rupiah akan berada di level Rp 17.750-Rp 17.975.
Baca Juga: Rupiah Balik Arah: Melemah Tipis ke Rp 17.870 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (12/8)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
