Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (11/8/2026), tetapi masih bertahan di dekat level tertingginya dalam lebih dari dua bulan.
Investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.376,31 per ons troi pada pukul 13.50 waktu AS. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 4.434,84 per ons troi, level tertinggi sejak 5 Juni.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi dari Puncak Dua Pekan, Pasar Waspadai Sinyal The Fed
Kenaikan tersebut membawa harga emas mendekati sekaligus mencoba menembus rata-rata pergerakan 100 hari di US$ 4.387,92 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru menguat sekitar 0,5% dan ditutup pada US$4.441,10 per ons troi.
Pergerakan emas masih dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Investor menanti laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Rabu (12/8) waktu setempat, disusul data harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8).
Data tersebut menjadi penting setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Juli menunjukkan hasil yang lemah. Kondisi tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September dan mendorong harga emas melonjak 2,4% dalam sehari.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan pasar kini membutuhkan konfirmasi bahwa tekanan inflasi AS mulai terkendali.
"Moderasi inflasi akan tetap mendukung harga emas," ujar Grant.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik 1,1%, Investor Tunggu Arah Bunga The Fed
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga The Fed belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 50%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 79%.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack sebelumnya mengatakan bahwa sudah waktunya bagi bank sentral AS mulai menaikkan suku bunga secara bertahap untuk menghindari kebutuhan menaikkan suku bunga secara lebih tajam di kemudian hari.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan tekanan harga mereda dan memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, daya tarik emas berpotensi kembali meningkat.
Selain kebijakan moneter, pasar emas juga mencermati perkembangan geopolitik. Presiden AS Donald Trump merespons tuntutan Iran terkait kesepakatan damai dengan meminta Teheran membayar kompensasi atas korban perang, serangan, dan aksi protes.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit dari Level Terendah Sepekan, Pasar Menanti Risalah The Fed
Di pasar komoditas lainnya, harga minyak bertahan di sekitar level tertinggi dalam sepekan di tengah perkembangan tersebut.
Sementara itu, harga perak spot turun 1,4% menjadi US$64,80 per ons troi. Platinum melemah 0,7% menjadi US$1.740,37 per ons troi, sedangkan paladium turun 1,3% menjadi US$1.365,60 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
