kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

IHSG Anjlok 17% dan Asing Kabur Rp 40 Triliun, Ini yang Harus Dilakukan Investor


Minggu, 26 April 2026 / 17:47 WIB
IHSG Anjlok 17% dan Asing Kabur Rp 40 Triliun, Ini yang Harus Dilakukan Investor
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar saham Indonesia masih berjalan di lorong gelap, dengan tekanan yang belum menemukan titik terang.

Tengok saja, pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 249,116 poin atau 3,38% ke level 7.129,49 pada penutupan Jumat (24/4/2026). Dalam sepekan terakhir, IHSG terperosok 6,61%.

Secara tahun berjalan, indeks sudah anjlok 17,55%, di tengah arus keluar dana asing yang mencapai Rp 40,8 triliun. Kinerja tersebut menempatkan IHSG sebagai indeks dengan performa terburuk secara global, berada di klasemen paling buncit dibandingkan indeks dunia lainnya, menurut data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir pekan lalu.

Baca Juga: Harga Logam Variatif, Nikel Menguat di Tengah Tekanan Oversupply

Pelemahan IHSG belakangan ini kerap dikaitkan dengan sentimen eksternal, mulai dari gejolak geopolitik hingga pergerakan mata uang global. Namun, pandangan tersebut dinilai kurang tepat.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menilai tekanan di pasar saham domestik justru lebih banyak dipengaruhi oleh persoalan internal. 

"IHSG turun karena eksternal itu tidak tepat, karena kita punya masalah sendiri di dalam negeri," kata Teguh kepada Kontan, Minggu (26/4/2026).

Teguh menjelaskan, setidaknya terdapat dua faktor utama yang membebani pasar saham Indonesia. Pertama, reli IHSG yang terjadi pada tahun 2025 lalu tidak ditopang oleh saham fundamental yang kuat. Kenaikan indeks lebih banyak digerakkan oleh saham-saham tertentu, khususnya yang terkait kelompok konglomerasi. Kondisi ini bahkan sempat menjadi sorotan MSCI yang menilai pergerakan IHSG tidak mencerminkan kondisi pasar yang sehat.

"Itu tidak ada hubungannya dengan fundamental ekonomi, engga ada hubungannya juga dengan pelemahan rupiah tapi lebih ke tata kelola bursa saham kita. Good corporate governance-nya lemah sekali," ucap Teguh.

Faktor kedua, lanjut Teguh, berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi, khususnya dari sisi kebijakan fiskal pemerintah dan pelemahan rupiah.

Baca Juga: Dolar AS Melemah, Analis Sarankan Investor Wait and See

Teguh bilang, pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan oleh penguatan dolar AS. Bahkan dalam kondisi tertentu ketika dolar melemah, rupiah tetap tertekan lebih dalam.

Hal ini, kata Teguh, dipicu oleh persepsi negatif investor terhadap kualitas belanja pemerintah, tercermin dari posisi defisit fiskal Indonesia yang semakin mendekati posisi ambang batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Padahal kondisi kita sedang tidak krisis," ujarnya.

Dampaknya terlihat dari minimnya minat investor asing terhadap pasar obligasi pemerintah maupun saham. Arus dana asing pun terus keluar seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit anggaran.

Dus, tekanan di IHSG saat ini merupakan kombinasi dari proses penyesuaian pasar terhadap struktur indeks yang tidak sehat sebelumnya, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal.

Di sisi lain, upaya regulator seperti BEI dan Otoritas Jasa Keuangan dalam melakukan pembenahan pasar dinilai belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan investor. 

Teguh mengakui, sejumlah langkah perbaikan telah dilakukan, termasuk tindak lanjut atas masukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta penindakan terhadap sejumlah pelaku pasar. Namun demikian, ia menilai langkah tersebut masih terbatas.

Baca Juga: Kinerja Tumbuh Solid, IRRA Masih Layak Dikoleksi? Ini Kata Analis

Investor asing juga kemungkinan besar melihat upaya tersebut sebagai perbaikan yang bersifat kosmetik, belum substantif dalam memperbaiki struktur pasar.

Asing Lepas Saham Big Caps

Tekanan jual investor asing di pasar saham domestik masih berlanjut, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Salah satu yang menjadi sorotan adalah pelemahan saham BBCA yang turun signifikan seiring aksi jual asing.

Teguh mengungkapkan tekanan itu berpotensi berlanjut dan menyasar ke saham-saham unggulan lainnya. Pelemahan saham-saham tersebut bukan disebabkan oleh penurunan fundamental kinerja emiten, melainkan karena faktor kepemilikan investor asing yang masih dominan dan dipicu oleh faktor makro seperti pelemahan nilai tukar, kondisi fiskal, serta isu tata kelola pasar.

Di sisi lain, Teguh mengingatkan agar investor tidak melihat kondisi pasar secara keseluruhan hanya dari pergerakan saham perbankan. Pasalnya, masih terdapat sejumlah sektor yang justru diuntungkan dalam kondisi saat ini, terutama sektor berbasis komoditas.

"Jadi, bukan berarti bagi investor retail ikut asing aja keluar dari BEI. Nggak juga. Kita hanya perlu pindah dari perbankan ke sektor-sektor itu tadi," terangnya.

Baca Juga: Ultrajaya (ULTJ) Bagi Dividen Tunai Rp 1,35 Triliun, Cek Jadwalnya

Hingga akhir 2026, Teguh memproyeksikan IHSG akan bergerak di rentang 7.000–7.500. Jika sempat terkoreksi hingga level 6.500, penurunan tersebut diperkirakan hanya sementara sebelum kembali menguat.

Prospek ini ditopang oleh kinerja laporan keuangan emiten pada kuartal I-2026 yang masih tergolong solid, di tengah berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi bantalan sehingga pelemahan IHSG tidak berlanjut terlalu dalam.

Jangan Agresif

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor untuk tetap mengedepankan strategi defensif dan oportunistis, bukan agresif, di tengah volatilitas rupiah yang bergerak di kisaran Rp 17.300 per dolar AS. Pendekatan ini juga dinilai relevan, terutama dalam menghadapi perdagangan saham pekan depan yang hanya berlangsung selama empat hari.

Ia menjelaskan, pendekatan wait and see masih akan mendominasi, mengingat faktor penggerak utama pasar, seperti nilai tukar rupiah dan yield, belum menunjukkan stabilitas. Oleh karena itu, investor disarankan lebih fokus pada strategi trading jangka pendek ketimbang mengambil posisi jangka menengah.

"Strategi buy on weakness boleh, tapi dengan skala kecil dan bertahap. Hindari all in, karena masih ada risiko makro," ucap Liza.

Secara outlook, IHSG diharapkan tidak turun lebih dalam dari level terendah sebelumnya di 6.917 yang menjadi area support krusial. Potensi penurunan dinilai mulai terbatas sejak mendekati level psikologis 7.000.

Apabila mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka. Namun, jika support tersebut ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan masih cukup besar.

Baca Juga: Dibayangi Ketidakpastian Global, Ini Proyeksi Rupiah Senin (27/4)

Saat ini, Liza merekomendasikan strategi trading bounce pada sejumlah saham perbankan, antara lain, BMRI di kisaran Rp 4.400 dengan target Rp 4.700–Rp 4.900, BBCA di area Rp 6.000 dengan target Rp 6.400–Rp 6.600, BBRI di sekitar Rp 3.000 dengan target Rp 3.300–Rp 3.400.

Pengamat pasar modal Hendra Wardhana mengamini. Di tengah volatilitas tinggi seperti ini, sikap investor sebaiknya lebih defensif dan selektif. Investor jangka pendek disarankan mengurangi agresivitas, fokus pada trading cepat atau trading buy saat oversold dan disiplin cut loss.

"Sementara investor jangka menengah hinga panjang dapat mulai melakukan akumulasi bertahap, namun tidak sekaligus atau average down secara bertahap pada saham dengan fundamental kuat," tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×