kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.166   -40,00   -0,23%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

IHSG Menguat Pekan Lalu, IPOT Rekomendasikan Saham Energi hingga ETF Dividen


Senin, 20 April 2026 / 07:34 WIB
IHSG Menguat Pekan Lalu, IPOT Rekomendasikan Saham Energi hingga ETF Dividen
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan ke level 7.634 pada pekan lalu, naik 2,35%. Meski demikian, aliran dana asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 2,4 triliun yang didominasi sektor perbankan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Sentimen utamanya masih didorong oleh dinamika geopolitik, khususnya konflik antara AS dan Iran. Situasinya cenderung tidak stabil dan perubahan narasinya sangat cepat,” ujar Imam dalam siaran pers, Minggu (19/4/2026).

Baca Juga: IHSG Rebound ke 7.634, Asing Masih Gencar Net Sell Rp 1,59 Triliun Sepekan

Ia menambahkan, ketidakstabilan di kawasan tersebut, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% minyak dunia, memicu sensitivitas tinggi di pasar energi global.

Kondisi ini turut mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga US$ 102 per barel pada Maret lalu. Meski terdapat upaya stabilisasi, seperti izin pembelian minyak Rusia oleh Amerika Serikat, Imam menilai pasokan global masih ketat.

“Secara struktural harga energi diperkirakan tetap tinggi meskipun ada koreksi jangka pendek,” imbuhnya.

Lebih lanjut, tingginya harga energi mulai berdampak pada kualitas pertumbuhan ekonomi global. China masih mencatat pertumbuhan sekitar 5%, namun mulai menghadapi tekanan dari sisi konsumsi domestik dan eksternal.

Sementara itu, sektor komoditas seperti nikel dinilai memiliki prospek yang kompleks. Di satu sisi, ada potensi kenaikan harga akibat gangguan pasokan bahan baku, namun di sisi lain kenaikan biaya produksi berpotensi menekan margin.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Cermati Proyeksi dan Sentimen Penggeraknya

Untuk pekan ini 20–24 April 2026, Imam memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways dan volatil, seiring dominasi sentimen global dan belum stabilnya aliran dana asing.

Secara teknikal, level 7.773 menjadi resistance terdekat yang perlu dicermati. Jika berhasil ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, jika tertahan, risiko koreksi masih terbuka.

Adapun level 7.308 menjadi support penting yang akan menopang pergerakan indeks apabila terjadi tekanan.

“Pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga perlu mencermati sejumlah sentimen penting, seperti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di level 4,75%, data Loan Prime Rate (LPR) China, data retail sales Amerika Serikat, serta data persediaan minyak mentah AS.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas Jelang RDG BI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan sejumlah saham untuk trading pekan ini.

Pertama, saham PGEO dengan entry di level Rp1.035–Rp1.045, target harga Rp1.105–Rp1.115, dan stop loss di bawah Rp1.000. Saham ini dinilai menarik karena menawarkan eksposur energi berbasis renewable yang lebih defensif di tengah volatilitas energi fosil.

Kedua, saham ASII dengan entry Rp 6.350–Rp 6.400, target harga Rp 6.600 hingga Rp 6.775, serta stop loss di bawah Rp6.175. Diversifikasi bisnis ASII dinilai mampu memberikan keseimbangan di tengah ketidakpastian global.

Ketiga, saham DSSA dengan entry Rp 3.240–Rp 3.260, target harga Rp 3.450, dan stop loss di bawah Rp3.150. Eksposur ke sektor energi, khususnya batubara, menjadi katalis utama saham ini.

Baca Juga: IHSG Menguat 2,35% ke 7.634, Intip Saham yang Banyak Diburu Asing Sepekan Terakhir

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan instrumen reksadana berbasis ETF, yakni Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) dengan entry di level 654, target harga 672, dan stop loss di bawah 645.

ETF ini dinilai relevan di tengah volatilitas pasar karena memberikan eksposur pada saham dengan dividen tinggi, sekaligus membantu diversifikasi portofolio investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×