Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Danantara dinilai masih memiliki prospek menarik meski pasar keuangan tengah dibayangi volatilitas dan meningkatnya perhatian dari Moody’s Ratings terhadap Indonesia.
Lembaga pemeringkat global tersebut kembali menyoroti risiko terhadap prospek kredit Indonesia. Salah satu perhatian utama Moody’s adalah keberadaan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), lembaga baru yang dibentuk untuk mengawasi ekspor bahan mentah.
Moody’s menilai batas kewenangan DSI masih belum sepenuhnya jelas. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi meningkatnya intervensi negara dalam aktivitas ekonomi, terlebih DSI berada di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang mengelola seluruh perusahaan pelat merah di Indonesia.
Meski demikian, kinerja saham-saham BUMN masih menunjukkan tren positif. Indeks IDX BUMN20, yang menjadi tolok ukur saham-saham pelat merah, menguat 4,87% dalam sebulan terakhir hingga mencapai level 323,46 pada Selasa (21/7/2026).
Kenaikan tersebut melampaui penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat naik 3,65% dalam periode yang sama.
Baca Juga: IHSG Naik 1,74%, Simak Rekomendasi Saham AMMN, CTRA, dan HRTA Rabu (22/7)
Sejumlah saham emiten Danantara juga membukukan kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir. Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melonjak 12,85%, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) naik 8,17%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 6,59%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bertambah 4,78%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 3,94%.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan pasar mulai mengapresiasi valuasi yang relatif rendah dan potensi perbaikan kinerja emiten-emiten Danantara. Namun demikian, sorotan Moody’s tetap perlu dicermati, terutama setelah Danantara Investment Management memperoleh peringkat Baa2 dengan prospek negatif.
Menurut Hari, kondisi tersebut menunjukkan eratnya keterkaitan antara prospek kredit Danantara dan pemerintah Indonesia. Dalam jangka pendek, isu tata kelola berpotensi meningkatkan volatilitas sekaligus membatasi ekspansi valuasi saham-saham BUMN.
"Risiko tata kelola bukan satu-satunya penggerak saham, tapi jadi faktor penting penentu risk premium, yakni makin tinggi persepsi intervensi nonkomersial, maka makin besar diskon valuasi yang diminta investor," ungkap dia, Selasa (21/7).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai isu tata kelola Danantara dapat menjadi sentimen jangka pendek yang meningkatkan kehati-hatian investor, khususnya investor asing. Meski begitu, dampaknya terhadap kinerja saham diperkirakan tetap terbatas selama tidak ada perubahan kebijakan yang memengaruhi fundamental perusahaan.
Abida memperkirakan prospek saham-saham Danantara pada semester II-2026 masih positif dan berpotensi mengungguli IHSG, meski penguatannya diprediksi berlangsung lebih selektif. Sektor perbankan dinilai tetap menjadi penopang utama berkat fundamental yang solid.
"Sentimen lain yang perlu dicermati adalah implementasi Danantara, kinerja laba emiten, arah suku bunga BI dan The Fed, serta perkembangan ekonomi global," tutur dia, Selasa (21/7).
Hari juga meyakini prospek saham Danantara masih cukup konstruktif pada paruh kedua tahun ini. Menurut dia, sejumlah emiten berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik dibanding IHSG apabila agenda restrukturisasi mulai menghasilkan peningkatan laba, arus kas, serta efisiensi operasional.
Sektor Perbankan, Energi, dan Infrastruktur Jadi Andalan
Hari menilai saham Danantara di sektor perbankan memiliki daya tarik lebih berkat pertumbuhan kredit yang masih terjaga, perbaikan biaya dana, dan valuasi yang mulai menarik.
Baca Juga: Prospek Kripto 2026 Masih Cerah, Bitcoin Berpeluang Tembus US$ 100.000?
Selain itu, saham di sektor pertambangan dan hilirisasi juga berpotensi menjadi pilihan investor, terutama emiten yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dan proyek-proyek strategis yang memiliki kelayakan ekonomi jelas.
"Sebaliknya, BUMN dengan beban utang tinggi, kebutuhan modal besar, dan ketergantungan pada dukungan pemerintah berpotensi tertinggal," tukas dia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan investor cenderung memilih saham Danantara yang memiliki fundamental kuat, profitabilitas tinggi, arus kas sehat, serta prospek pertumbuhan laba yang jelas.
Menurut Nafan, sektor perbankan, infrastruktur, serta energi dan pertambangan masih berpeluang menjadi primadona. Perbankan ditopang oleh kualitas aset dan profitabilitas yang relatif baik, sementara sektor infrastruktur dapat kembali melesat jika percepatan proyek pemerintah dilanjutkan.
Di sisi lain, sektor energi dan pertambangan diproyeksikan tetap unggul selama harga komoditas bertahan pada level yang mendukung.
Secara umum, investor perlu mencermati sejumlah sentimen utama, mulai dari perkembangan implementasi Danantara dan struktur tata kelolanya, arah kebijakan fiskal dan belanja infrastruktur pemerintah, keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (The Fed), dinamika harga komoditas global, hingga pergerakan arus modal asing ke pasar negara berkembang.
Investor Asing Masih Selektif
Nafan menilai investor asing tidak sepenuhnya mengambil posisi wait and see terhadap seluruh saham Danantara, khususnya saham-saham likuid seperti Himbara, JSMR, dan PGEO. Menurut dia, aliran modal asing tetap terbuka karena emiten-emiten tersebut memiliki rekam jejak tata kelola yang kuat dan tingkat likuiditas free float yang tinggi.
Sebaliknya, investor asing dinilai masih berhati-hati terhadap emiten sektor konstruksi maupun industri siklikal yang tengah menjalani proses restrukturisasi.
"Mereka menunggu bukti nyata bagaimana Danantara menyelesaikan sisa-sisa liabilitas masa lalu dan mengeksekusi konsolidasi tanpa mengorbankan pemegang saham minoritas," terang Nafan, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Rabu (22/7), Investor Waspadai Hasil RDG BI dan Profit Taking
Senada, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan investor asing kemungkinan masih akan bersikap lebih selektif terhadap sebagian saham pelat merah sambil menunggu implementasi Danantara berjalan lebih matang.
Namun, peluang masuknya dana asing tetap terbuka, terutama bagi emiten yang memiliki fundamental kokoh, likuiditas tinggi, tata kelola yang baik, dan konsisten mencetak pertumbuhan laba.
"Dengan kata lain, keputusan investasi asing akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas fundamental masing-masing emiten dibandingkan statusnya sebagai perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara," jelasnya, Selasa (21/7/2026).
Arinda merekomendasikan saham BBRI, BMRI, TLKM, dan PGAS untuk dicermati investor. Ia mematok target harga BBRI di level Rp 3.700 per saham, BMRI sebesar Rp 5.400 per saham, TLKM di Rp 3.500 per saham, serta PGAS di Rp 2.000 per saham.
Sementara itu, Nafan menyarankan investor untuk melakukan akumulasi beli pada saham BBRI, BBNI, BMRI, BRIS, JSMR, PGEO, dan TLKM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
