Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PP Tbk (PTPP) membukukan lonjakan laba bersih pada semester I 2026 meski pendapatan usaha masih mengalami tekanan.
Perbaikan efisiensi operasional, penurunan beban, serta keuntungan selisih kurs menjadi faktor utama yang mendongkrak kinerja perseroan di tengah lesunya pendapatan.
Berdasarkan laporan keuangan, PTPP mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 5,95 triliun pada semester I 2026, turun 11,2% dibandingkan Rp 6,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan terbesar masih berasal dari segmen jasa konstruksi senilai Rp 4,89 triliun, disusul properti dan realti Rp 458,27 miliar, pertambangan Rp 168,41 miliar, engineering, procurement and construction (EPC) Rp 161,27 miliar, serta pendapatan keuangan atas konstruksi aset konsesi Rp 155,86 miliar.
Baca Juga: PT PP (PTPP) Catat Laba Bersih Tumbuh 196,5% per Juni 2026
Sisanya berasal dari persewaan peralatan, jalan tol, energi, dan pracetak.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan turun lebih dalam menjadi Rp 5,19 triliun dari Rp 5,78 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski laba kotor turun 17,5% menjadi Rp 760,76 miliar, perseroan memperoleh keuntungan selisih kurs sebesar Rp 51,10 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 3,91 miliar pada semester I 2025.
Alhasil, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 196,5% menjadi Rp 193,46 miliar dari Rp 65,24 miliar pada semester I 2025.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai peningkatan laba terutama ditopang oleh keberhasilan PTPP menekan biaya konstruksi dan beban operasional lebih besar dibandingkan penurunan pendapatan.
Menurutnya, kombinasi penurunan harga bahan baku, proyek dengan marjin lebih tinggi, penurunan beban bunga, serta efisiensi operasional memperkuat profitabilitas perseroan.
"Efisiensi operasional dan penurunan beban menjadi pendorong utama lonjakan laba PTPP pada semester I 2026," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Sementara itu, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai kenaikan laba lebih banyak ditopang oleh perbaikan efisiensi dan berkurangnya beban non-operasional dibandingkan pertumbuhan bisnis inti.
Ia juga mencermati beban keuangan yang masih tinggi akibat leverage, sehingga kualitas pemulihan kinerja tetap perlu dipantau, terutama dari sisi arus kas.
Baca Juga: PT PP (PTPP) Siapkan Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Suku Bunga
Memasuki semester II 2026, kedua analis memproyeksikan prospek PTPP masih positif. Percepatan penyelesaian proyek, pengakuan pendapatan dari backlog, pembayaran proyek strategis pemerintah, hingga peluang kontrak baru diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan.
Di sisi lain, tingginya suku bunga, potensi keterlambatan pembayaran proyek, serta risiko integrasi dalam rencana merger BUMN karya tetap menjadi tantangan.
Meski demikian, PTPP dinilai memiliki posisi fundamental yang relatif lebih kuat dibandingkan emiten BUMN karya lainnya karena rasio utang yang lebih terjaga, diversifikasi bisnis, serta kebijakan selektif dalam mengambil proyek.
Nafan merekomendasikan add saham PTPP dengan target harga Rp 254 per saham, sedangkan Sukarno merekomendasikan beli saham PTPP dengan target harga Rp 260-Rp 280 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Editor: Noverius Laoli













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
