CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Saham-Saham Danantara Tetap Prospektif di Semester II-2026, Ini Pilihan dari Analis


Selasa, 21 Juli 2026 / 20:04 WIB
Saham-Saham Danantara Tetap Prospektif di Semester II-2026, Ini Pilihan dari Analis
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham Danantara pilihan yang masih layak dilirik untuk semester II-2026 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham emiten BUMN di bawah Danantara dipandang tetap memiliki daya tarik di tengah kondisi pasar yang masih rawan bergejolak dan sorotan dari Moody's Ratings terhadap pasar Indonesia.

Sebagai informasi, lembaga pemeringkat global tersebut kembali menyoroti meningkatnya risiko terhadap prospek kredit Indonesia. Salah satu poin yang jadi perhatian Moody's adalah keberadaan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), lembaga baru yang dibentuk untuk mengawasi ekpor bahan mentah.

Moody's menyebut belum jelasnya batas kewenangan lembaga ini menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran terkait potensi peningkatan intervensi negara dalam aktivitas ekonomi. Terlebih lagi, DSI berada di bawah naungan BPI Danantara yang mengelola seluruh perusahaan pelat merah di Indonesia.

Di tengah sorotan Moody's, IDX BUMN20 sebagai indeks yang merepresentasikan saham-saham pelat merah masih tumbuh positif yakni 4,87% dalam sebulan terakhir ke level 323,46 pada Selasa (21/7). Penguatan IDX BUMN20 lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 3,65% dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Laba Bersih PT PP (PTPP) Melonjak 196,5% per Juni 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya

Beberapa saham emiten Danantara juga mengalami penguatan dalam sebulan terakhir. Misalnya, PGEO (+12,85%), JSMR (+8,17%), TLKM (+6,59%), BBRI (+4,78%), dan BMRI (+3,94%).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, pasar terlihat mulai mengapresiasi valuasi rendah dan potensi perbaikan kinerja emiten Danantara.

Namun, tetap saja sorotan dari Moody's perlu dicermati, apalagi Danantara Investment Management mendapat peringkat Baa2 dengan outlook negatif. Hal ini mencerminkan keterkaitan prospek kredit Danantara dengan pemerintah.

Dalam jangka pendek, isu tata kelola berpotensi menaikkan volatilitas dan menahan ekspansi valuasi saham Danantara. Untuk jangka menengah, dampak sorotan Moody's bergantung pada implementasi berbagai keputusan investasi Danantara.

"Risiko tata kelola bukan satu-satunya penggerak saham, tapi jadi faktor penting penentu risk premium, yakni makin tinggi persepsi intervensi nonkomersial, maka makin besar diskon valuasi yang diminta investor," ungkap dia, Selasa (21/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, isu tata kelola Danantara berpotensi menjadi sentimen jangka pendek karena dapat meningkatkan kehati-hatian investor, terutama investor asing. Namun, dampaknya terhadap saham emiten terkait Danantara diperkirakan terbatas selama tidak ada perubahan kebijakan yang mengganggu fundamental emiten.

Dalam jangka menengah, transparansi dan kepastian tata kelola akan menjadi faktor penting yang memengaruhi persepsi risiko dan valuasi saham pelat merah.

Abida memperkirakan, prospek saham-saham Danantara pada semester II-2026 tetap positif dan berpeluang mengungguli IHSG, meski penguatannya cenderung lebih selektif. Sektor perbankan dipandang tetap menjadi penopang utama berkat fundamental yang kuat.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Rabu (22/7), Pasar Menanti Hasil RDG Bank Indonesia

"Sentimen lain yang perlu dicermati adalah implementasi Danantara, kinerja laba emiten, arah suku bunga BI dan The Fed, serta perkembangan ekonomi global," tutur dia, Selasa (21/7/2026).

Hari juga meyakini prospek saham Danantara masih cukup konstruktif pada paruh kedua tahun ini. Beberapa saham Danantara bisa saja lebih unggul dari performa IHSG jika agenda restrukturisasi mulai membuahkan hasil berupa perbaikan laba, arus kas, dan efisiensi operasional.

Di samping itu, Hari menyebut saham Danantara dari sektor perbankan punya daya tarik lebih berkat dukungan pertumbuhan kredit, perbaikan biaya dana, dan valuasi yang mulai menarik. Saham Danantara di sektor pertambangan dan hilirisasi juga bisa menjadi perhatian, terutama emiten yang diuntungkan oleh harga komoditas dan proyek strategis dengan kelayakan ekonomi jelas.

"Sebaliknya, BUMN dengan beban utang tinggi, kebutuhan modal besar, dan ketergantungan pada dukungan pemerintah berpotensi tertinggal," tukas dia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, investor diperkirakan akan lebih memilih saham Danantara dengan fundamental kuat, profitabilitas tinggi, arus kas sehat, serta visibilitas pertumbuhan laba yang jelas.

Saham Danantara dari sektor perbankan, infrastruktur, serta energi dan pertambangan tetap berpeluang menjadi primadona. Sektor perbankan masih ditopang kualitas aset dan profitabilitas yang relatif baik, sedangkan infrastruktur bisa kembali melesat jika percepatan proyek pemerintah kembali dilakukan. Adapun sektor energi dan pertambangan berpotensi unggul selama harga komoditas tetap berada pada level yang mendukung.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham AMMN, CTRA dan HRTA untuk Rabu (22/7)

Secara umum, sentimen utama yang perlu diperhatikan investor terhadap saham-saham pelat merah antara lain perkembangan implementasi Danantara dan struktur tata kelolanya, arah kebijakan fiskal dan belanja infrastruktur pemerintah, keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan The Fed, dinamika harga komoditas global, serta perkembangan arus modal asing ke pasar negara berkembang.

Nafan juga menyebut, investor asing sebenarnya tidak wait and see terhadap saham-saham Danantara yang likuid seperti Himbara dan emiten lain seperti JSMR atau PGEO. Aliran modal masuk tetap terbuka lebar lantaran emiten-emiten seperti ini memiliki rekam jejak tata kelola yang sudah teruji matang dan likuiditas free float yang tebal.

Sebaliknya, investor asing cenderung mengambil sikap wait and see terhadap saham Danantara di sektor konstruksi atau industri bersifat siklikal yang sedang restrukturisasi.

"Mereka menunggu bukti nyata bagaimana Danantara menyelesaikan sisa-sisa liabilitas masa lalu dan mengeksekusi konsolidasi tanpa mengorbankan pemegang saham minoritas," terang Nafan, Selasa (21/7/2026).

 



Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty berpendapat, investor asing kemungkinan masih akan bersikap lebih selektif atau wait and see terhadap sebagian saham pelat merah. Investor tersebut juga menunggu implementasi Danantara berjalan lebih matang dan memberikan bukti nyata mengenai tata kelola serta arah pengelolaan investasi.

Namun, hal itu tidak berarti potensi arus masuk dana asing tertutup. Emiten Danantara yang memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, tata kelola yang baik, dan konsisten mencetak pertumbuhan laba seperti Himbara masih berpeluang menjadi tujuan utama investor asing.

"Dengan kata lain, keputusan investasi asing akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas fundamental masing-masing emiten dibandingkan statusnya sebagai perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara," jelasnya, Selasa (21/7).

Arinda menyebut, saham BBRI, BMRI, TLKM, dan PGAS layak diperhatikan oleh investor. Harga saham BBRI ditargetkan menyentuh level Rp 3.700 per saham, BMRI di level Rp 5.400 per saham, TLKM di level Rp 3.500 per saham, dan PGAS di level Rp 2.000 per saham.

Di lain pihak, Nafan menyarankan investor untuk akumulasi beli saham BBRI, BBNI, BMRI, BRIS, JSMR, PGEO, dan TLKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×