Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau. Pada Jumat (7/8/2026), IHSG naik 65,94 poin atau 1,04% ke level 6.409,65. Dalam sepekan, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut telah menguat 2,78%.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan penguatan IHSG sepanjang pekan turut disertai peningkatan volume pembelian. Pergerakan pasar juga dipengaruhi kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri.
Dari domestik, pelaku pasar merespons data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% secara tahunan atau year on year (yoy).
Meski melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,61%, kinerja ekonomi tersebut masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Baca Juga: IHSG Menguat ke Level 6.409, Analis Rekomendasikan Saham Emas
Sentimen positif lainnya datang dari inflasi Juli 2026 yang melandai ke level 2,88%. Pergerakan rupiah yang cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan berada di kisaran Rp 17.800 per dolar AS turut menopang sentimen pasar saham.
Dari eksternal, investor mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, terutama data ketenagakerjaan yang mulai melandai, termasuk non-farm payrolls. Pergerakan harga komoditas global juga menjadi perhatian pelaku pasar.
"Terutama harga emas yang meningkat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah," ujar Herditya kepada KONTAN, Jumat (7/8/2026).
Equity Research Analyst Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, data cadangan devisa Indonesia juga menjadi salah satu perhatian investor. Posisi cadangan devisa pada Juli 2026 tercatat US$ 145,3 miliar, turun tipis dari US$ 145,6 miliar pada Juni 2026.
Baca Juga: IHSG Rebound 0,45% ke Level 6.372 Jumat (7/8) Pagi, Sentimen Domestik Masih Positif
Menurut Alrich, penurunan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk meredam pelemahan rupiah," ujarnya.
IHSG berpeluang lanjut menguat
Untuk perdagangan awal pekan depan, Herditya melihat IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, meski ruang kenaikannya diperkirakan terbatas. Ia memperkirakan level support IHSG berada di 6.385, sementara resistance di 6.420.
Pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis baru, termasuk rilis data inflasi China yang diperkirakan relatif melandai.
Pergerakan harga komoditas global, khususnya emas dan minyak, juga berpotensi memengaruhi arah IHSG.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 6.400, Simak Rekomendasi Saham TPIA, CDIA, DSSA hingga BACH
Selain faktor makroekonomi dan komoditas, investor masih akan menunggu publikasi laporan kinerja emiten untuk kuartal II-2026.
Pembagian dividen interim juga menjadi salah satu katalis yang dapat memengaruhi pergerakan sejumlah saham.
"Masih ada sentimen rilis kinerja emiten kuartal II 2026 dan juga dividen interim," tandas Herditya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
