Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Saham bank masih menarik secara selektif.
Perubahan arus dana asing juga membuat sektor yang menjadi penopang IHSG ikut berganti. Pada fase reli Juli-Agustus, saham perbankan besar sempat menjadi motor penguatan indeks seiring masuknya dana asing.
Namun, ketika foreign flow berbalik keluar pada September, saham bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru ikut menekan IHSG.
Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ketergantungan saham-saham berkapitalisasi besar terhadap partisipasi investor asing.
Baca Juga: Tertekan di Pekan ini, Begini Proyeksi IHSG di Pekan Depan
Memasuki kuartal IV 2026, sektor perbankan masih dinilai menarik, tetapi pemilihannya perlu lebih selektif. Bank dengan funding franchise dan posisi likuiditas yang kuat dinilai lebih mampu menghadapi kondisi likuiditas dan pendanaan yang ketat.
BBCA menjadi salah satu contoh karena memiliki posisi likuiditas yang relatif lebih baik. Sebaliknya, investor perlu lebih berhati-hati terhadap bank dengan posisi likuiditas yang lebih terbatas.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor asing. Pelemahan rupiah dapat menggerus imbal hasil investasi ketika dikonversi kembali ke dolar AS.
Hingga saat ini, aliran dana asing di pasar reguler telah mencapai net sell Rp107,43 triliun secara year to date (YTD).
Karena itu, Rully tidak menyarankan investor mengejar momentum hanya karena ekspektasi window dressing pada akhir tahun. Menurutnya, kondisi global dan arus dana asing pada 2026 berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Investor dinilai lebih baik memprioritaskan emiten dengan neraca keuangan yang kuat, arus kas sehat, dan prospek pertumbuhan laba yang lebih terlihat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













