Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu rebound di akhir pekan ini, Jumat (2/10/2026). Namun, tekanan jual masih membebani IHSG.
Pada akhir perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG ditutup menguat 27,39 poin atau 0,46% ke level 6.036,89. Namun secara mingguan, IHSG masih longsor 3,28%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, penguatan IHSG di akhir pekan lebih mungkin menjadi technical rebound setelah tekanan yang terjadi sepanjang September dan awal Oktober. Momentum bearish juga masih terlihat sehingga IHSG belum serta-merta beralih ke tren bullish.
"Harapan IHSG untuk kembali bullish masih terbuka, tetapi per 2 Oktober 2026 saya melihat prosesnya lebih mungkin diawali stabilisasi dan technical rebound, bukan langsung beralih ke bullish kuat," kata Nafan kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: Jadwal Pembagian Dividen Interim ASII Rp 3,89 Triliun, Cum Dividen 14 Oktober
IHSG tercatat turun 7,95% sepanjang September 2026 dan ditutup di level 6.071 pada akhir bulan. Tekanan berlanjut pada 1 Oktober hingga IHSG ditutup di level 6.009,50 sebelum mulai rebound pada perdagangan Jumat.
Untuk beralih ke tren bullish yang lebih berkelanjutan, Nafan menyebut ada sejumlah kondisi yang perlu dipenuhi. Rupiah perlu kembali stabil, yield US Treasury (UST) mereda, tekanan jual investor asing berkurang hingga berbalik menjadi net buy, serta kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia kembali pulih.
"Rupiah perlu kembali stabil setelah sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS, yield US Treasury perlu mereda karena kenaikan yield global saat ini menjadi salah satu sumber tekanan terhadap emerging markets, foreign net sell perlu berkurang dan berbalik menjadi net buy," ujarnya.
Nafan menambahkan, sentimen eksternal masih menjadi salah satu penghambat utama IHSG. Kenaikan yield UST dan penguatan dolar AS membuat tekanan terhadap aset emerging market meningkat, termasuk rupiah dan saham Indonesia.
Pelemahan rupiah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS pada 29 September juga meningkatkan sikap hati-hati investor. Di saat yang sama, aksi jual investor asing masih berlanjut.
Pada 1 Oktober, investor asing mencatat net sell sekitar Rp 240,4 miliar di pasar reguler, dengan akumulasi net sell sepanjang 2026 mencapai sekitar Rp 107,4 triliun.
Harga minyak yang tinggi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah turut menambah tekanan. Dari sisi domestik, kenaikan inflasi September serta ketidakpastian pasca-reshuffle kabinet juga membuat investor cenderung wait and see.
Baca Juga: Turun Rp 2.000, Harga Emas Antam Hari Ini, Sabtu (3/10), Rp 2.574.000 Per Gram
Meski demikian, fundamental domestik belum sepenuhnya menjadi beban bagi pasar. Indonesia masih mencatat surplus perdagangan Agustus sebesar US$ 3,55 miliar. Selain itu, likuiditas domestik mendapat dukungan dari langkah Bank Indonesia meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder pada September.
Untuk perdagangan pekan depan, Nafan memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. Ia menempatkan level support di 6.016 dan 5.851, sementara resistance berada di 6.180 dan 6.335.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














