Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembentukan Bursa Komoditas dan Mineral Strategis (BMKS) atau Indonesia Commodity Exchange (ICOMEX) dapat menjadi katalis struktural bagi PT Timah (Persero) Tbk (TINS), terutama dalam meningkatkan transparansi perdagangan dan pembentukan harga timah domestik.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, ICOMEX berpotensi memberikan dampak positif bagi TINS dalam jangka menengah hingga panjang.
Pasalnya, timah menjadi komoditas pertama yang akan diperdagangkan di ICOMEX dengan rencana transaksi perdana pada Januari 2027.
“ICOMEX lebih tepat dipandang sebagai katalis struktural jangka menengah-panjang bagi TINS, sementara dalam jangka pendek pergerakan saham dan kinerja perusahaan masih akan sangat sensitif terhadap harga timah global, realisasi produksi, serta dinamika pasar komoditas,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Empat Emiten MIND ID yang Gencar Ekspansi
Menurut Nafan, ICOMEX dapat memperkuat price discovery dan membentuk referensi harga timah domestik. Hal ini berpotensi meningkatkan visibilitas harga jual TINS sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam ekosistem timah nasional.
“Dengan adanya ICOMEX, transparansi perdagangan dan pembentukan harga domestik dapat menjadi lebih baik. Dampaknya terhadap TINS akan semakin terlihat apabila likuiditas perdagangan terbentuk dan harga yang dihasilkan dipercaya sebagai referensi,” jelasnya.
Namun, besarnya dampak ICOMEX tetap bergantung pada tingkat likuiditas, jumlah pelaku pasar serta kredibilitas harga yang terbentuk sebagai referensi domestik maupun internasional.
Sementara itu, kinerja operasional TINS pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Produksi bijih timah tercatat 12.232 ton Sn, naik 75% secara tahunan.
Sejalan dengan itu, produksi logam timah meningkat 58% menjadi 10.865 ton dari 6.800 ton pada semester I 2025.
Kenaikan produksi tersebut turut menopang penjualan logam timah yang mencapai 10.984 ton, atau tumbuh 85% dibandingkan dengan 5.933 ton pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Menanti Langkah Menkeu Baru Jaga Kredibilitas Fiskal, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
Penguatan kinerja juga didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata logam timah, yang hingga Juni 2026 mencapai US$49.794 per metrik ton atau meningkat 52% secara tahunan.
Dari sisi fundamental, Nafan menilai prospek TINS masih terbuka. ICOMEX dapat mendukung transparansi perdagangan, efisiensi tata niaga dan potensi optimalisasi harga jual.
Kendati demikian, kinerja TINS tetap akan lebih banyak ditentukan oleh harga timah global, volume produksi dan penjualan, biaya produksi serta produktivitas.
“Jika harga timah global tetap mendukung dan produksi TINS dapat meningkat secara berkelanjutan, keberadaan ICOMEX berpotensi memperkuat pertumbuhan TINS dalam jangka menengah hingga panjang,” tambah Nafan.
Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana juga melihat ICOMEX sebagai katalis struktural bagi TINS.
Menurut dia, kehadiran bursa tersebut tidak hanya menambah tempat perdagangan, tetapi juga dapat membuat ekosistem timah Indonesia lebih transparan, terukur dan efisien.
Baca Juga: PT Timah (TINS) Jajaki Mitra untuk Menggarap Logam Tanah Jarang
“ICOMEX sebaiknya dilihat sebagai katalis tambahan yang memperkuat ekosistem bisnis TINS, bukan sebagai satu-satunya faktor yang menentukan kinerja saham,” kata Hendra.
Menurut Hendra, manfaat ICOMEX dapat terlihat melalui peningkatan transparansi, likuiditas, perluasan partisipasi pelaku pasar dan terbentuknya acuan transaksi yang lebih jelas.
“Dalam jangka menengah hingga panjang, ICOMEX dapat membantu optimalisasi strategi penjualan, meningkatkan efisiensi perdagangan dan memperkuat posisi TINS dalam rantai pasok timah,” ujarnya.
Meski begitu, dampaknya terhadap pendapatan dan laba tidak akan langsung terlihat. Efektivitas ICOMEX tetap bergantung pada volume transaksi, jumlah peserta dan tingkat likuiditas perdagangan.
“ICOMEX bukan faktor yang langsung membuat pendapatan atau laba TINS naik. Fundamental global tetap menjadi faktor utama, terutama harga timah dunia, permintaan, pasokan dan realisasi produksi,” kata Hendra.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham SMGR, TLKM, dan TINS untuk Selasa (15/9)
Nafan juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, mulai dari volatilitas harga timah global, dinamika pasokan dan permintaan, produktivitas pertambangan, cuaca, aktivitas tambang ilegal hingga pelaksanaan ICOMEX.
Pada tahap awal, proses pembentukan harga juga berpotensi belum optimal apabila likuiditas dan jumlah pelaku pasar masih terbatas.
Hendra menambahkan, investor juga perlu mencermati cadangan dan kadar bijih, biaya operasional, kebijakan pertambangan, aturan ekspor serta perkembangan hilirisasi.
Sementara dari sisi ICOMEX, tingkat likuiditas dan kepercayaan terhadap harga yang terbentuk menjadi faktor penting.
Untuk saham TINS, Nafan memberikan rekomendasi sell on strength.
Sementara Hendra melihat saham TINS masih dapat dicermati untuk trading buy atau speculative buy, dengan target psikologis Rp 5.000 dan batas risiko atau stop loss di Rp 4.500.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek RAJA dan RATU yang Makin Kokoh di Sektor Energi
Menurut Hendra, secara teknikal TINS saat ini berada di area resistance setelah mengalami kenaikan.
Konsolidasi yang sehat dapat menjadi proses pembentukan basis, sedangkan breakout yang disertai volume transaksi dapat memperkuat momentum saham.
Sebagai informasi, pada perdagangan Kamis (17/9/2026), saham TINS ditutup menguat tipis 0,43% ke level Rp 4.700 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














