kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Harta Djaya (MEJA) Siap Ekspansi ke Tambang Batubara, Siapkan Akuisisi US$ 100 Juta


Jumat, 29 Mei 2026 / 17:28 WIB
Harta Djaya (MEJA) Siap Ekspansi ke Tambang Batubara, Siapkan Akuisisi US$ 100 Juta
ILUSTRASI. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) (Dok/MEJA)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) siap menyambut babak baru dalam pengembangan bisnisnya. Emiten yang bergerak di sektor produsen furnitur dan jasa konstruksi interior ini bakal memperluas lini usahanya ke sektor tambang batubara.

MEJA menempuh sektor lini usaha baru melalui aksi korporasi berupa akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 100 juta. Transaksi akuisisi ini ditargetkan selesai pada kuartal III-2026 dengan skema share swap atau pertukaran saham.

MEJA berencana melakukan penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada kisaran harga Rp 450 hingga Rp 550 per saham guna mendukung rencana akuisisi. Rencana rights issue itu nantinya akan terlebih dahulu dimintakan persetujuan kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000, Begini Prospek dan Penggerak di Semester II-2026

Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto mengatakan diversifikasi bisnis ke sektor batubara menjadi langkah perusahaan dalam menciptakan sumber pendapatan baru, yang pada gilirannya akan mendukung profitabilitas. Kendati melakukan ekspansi bisnis, Richie menegaskan lini usaha eksisting perusahaan akan tetap berjalan.

"Secara bisnis otomatis pendapatannya ketika dikonsolidasi pasti akan jauh lebih besar dari sisi tambang. Secara buku (laporan keuangan), mungkin baru akan terlihat di semester II tahun 2027 atau Desember 2027," kata Richie.

Richie menyampaikan sinergi antara MEJA dan TCP diharapkan mampu mengoptimalkan potensi masing-masing entitas, mulai dari efisiensi operasional, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan proyek lintas sektor.

Dengan kombinasi kapabilitas konstruksi dan akses terhadap sumber daya energi, kolaborasi ini diyakini akan membuka peluang baru dalam pengembangan proyek strategis nasional.

Berdasarkan sudut pandang industri, sektor energi dinilai menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong pertumbuhan nilai perusahaan. Ketersediaan energi yang andal dan efisien tidak hanya mendukung operasional, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis. Oleh karena itu, investasi di sektor ini dipandang sebagai langkah strategis yang memberikan leverage signifikan terhadap valuasi perusahaan.

Sementara itu, Komisaris Utama MEJA, Noprian Fadli, menambahkan perusahaan mendorong percepatan proses akuisisi sebagai bagian dari strategi akselerasi pertumbuhan. 

“Kami melihat momentum pasar yang sangat baik, sehingga proses akuisisi ini kami dorong untuk dapat direalisasikan lebih cepat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” ungkapnya.

Baca Juga: Lebih Cuan Mana, Investasi Emas Fisik atau Emas Digital? Ini Kata Pakar

Pendiri PT Trimata Coal Perkasa, Subagio, menekankan pentingnya kolaborasi strategis dalam mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki. Menurutnya, integrasi antara kekuatan operasional dan visi bisnis kedua perusahaan akan membuka peluang pengembangan yang lebih luas, termasuk dalam mendukung agenda hilirisasi industri nasional.

Selain itu, sektor energi dipandang sebagai salah satu pilar utama dalam meningkatkan nilai perusahaan. Ketersediaan sumber energi yang efisien dan berdaya saing diyakini mampu memberikan dampak signifikan terhadap kinerja operasional serta memperkuat kepercayaan pemegang saham.

"Ke depan, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pemegang saham," ucap Subagio. 

Sebagai informasi tambahan, tambang TCP sendiri diklaim sebagai aset batubara skala besar dengan luas konsesi sekitar 11.640 hektare. Karakteristik seam yang tebal, metode penambangan open pit, serta kondisi geologi yang ekonomis dinilai mendukung operasi jangka panjang. 

Berdasarkan laporan JORC yang disusun konsultan independen Faan Grobelaar & Associates, TCP memiliki estimasi mineable coal resources sekitar 693,7 juta ton. 

TCP juga telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam sebagai kontraktor tambang untuk mengelola tambang batubara di Tungkal LIR, Sumatera Selatan. Target produksi di 2026 ditetapkan sebesar 1,5 juta ton, dengan Agro Energy Trading Pte. Ltd. sebagai pembeli siaga.

Baca Juga: Ekspansi Kapasitas BREN Meningkat, Simak Prospek Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×