Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dan perak dunia masih bergerak terbatas di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan perkembangan geopolitik global.
Melansir Trading Economics pukul 16.29 WIB, harga emas spot naik 0,64% secara harian menjadi US$ 4.524 per ons troi. Namun, dalam sebulan terakhir harga emas masih terkoreksi 2,13%.
Sementara itu, perak menguat 0,09% dalam sehari menjadi US$ 75,65 per ons troi dan menguat 2,39% dalam sebulan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan kenaikan kedua logam mulia tersebut mencerminkan pasar yang masih berada dalam fase konsolidasi.
Baca Juga: Aturan Sedang Disiapkan, ETF Emas Bisa Jadi Pilihan Investor
Menurut Yusuf, sentimen positif bagi emas datang dari kecenderungan pelemahan dolar AS meskipun indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di atas level 100.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi penopang permintaan aset safe haven.
"Pernyataan Presiden Donald Trump terkait blokade Selat Hormuz membuat kekhawatiran pasar tetap tinggi dan kondisi seperti itu biasanya langsung meningkatkan minat investor ke aset safe haven seperti emas,” ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Pelaku pasar saat ini juga menanti rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode April yang menjadi acuan utama bank sentral AS dalam membaca arah inflasi.
Investor tengah mencari kepastian apakah inflasi inti mulai mendekati target 2% atau justru masih cukup tinggi sehingga ruang penurunan suku bunga semakin terbatas.
Baca Juga: Harga Emas Terdorong Kebijakan Kontroversial Trump, Diprediksi Bullish Hingga 2028
Namun, Yusuf menilai kenaikan harga emas dan perak masih tertahan oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Pasar masih mencerna pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed baru pada Sabtu (23/5).
Ia menilai Warsh dikenal memiliki pandangan hawkish dan belum memberikan sinyal jelas terkait peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Sikap tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Pandangan hawkish itu juga diperkuat oleh komentar pejabat The Fed, Christopher Waller yang mulai meninggalkan bias pelonggaran moneter, ditambah data tenaga kerja AS yang masih relatif solid.
"Jadi wajar kalau harga emas dan perak akhirnya hanya naik tipis karena pasar saat ini memang cenderung konsolidasi sambil menunggu arah kebijakan moneter yang lebih jelas," kata Yusuf.
Berbeda dengan emas, Yusuf menjelaskan perak cenderung lebih sensitif terhadap prospek industri global dan suku bunga tinggi.
Sejak konflik Timur Tengah memanas, harga perak bahkan telah terkoreksi sekitar 17% karena kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Baca Juga: Kinerja Investasi Maret 2026 Tertekan Gejolak Global, Emas Terkoreksi Tajam
Menurutnya, emas lebih dominan digunakan sebagai instrumen lindung nilai, sedangkan permintaan perak juga sangat dipengaruhi aktivitas industri.
Di sisi investasi ritel, Yusuf menilai investor perlu membedakan tujuan investasi emas untuk trading jangka pendek dan penyimpanan nilai jangka panjang. Ia mencatat spread harga emas batangan, khususnya emas Antam, masih cukup lebar.













