kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

Harta Djaya (MEJA) Diversifikasi Bisnis ke Sektor Batubara, Intip Prospeknya


Senin, 27 April 2026 / 19:48 WIB
Harta Djaya (MEJA) Diversifikasi Bisnis ke Sektor Batubara, Intip Prospeknya
ILUSTRASI. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) (Dok/MEJA)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) bersiap melakukan ekspansi usaha dengan masuk ke sektor batubara sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Langkah ini ditempuh melalui rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai transaksi sekitar US$ 100 juta. 

Perusahaan menargetkan akuisisi ini dapat diselesaikan pada kuartal III-2026. Adapun transaksi dalam akuisisi ini menggunakan skema share swap. 

Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto, menyampaikan langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas portofolio bisnis ke sektor energi, khususnya batubara berkalori tinggi yang dinilai memiliki permintaan relatif stabil, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Kami memandang kolaborasi ini sebagai momentum untuk memperkuat posisi di industri energi, sekaligus membangun fondasi pertumbuhan yang berkesinambungan,” kata Richie saat ditemui di Jakarta, Senin (27/4/2026). 

Baca Juga: IHSG Tertinggal dari Bursa Asia, Analis Soroti Faktor MSCI dan Negosiasi Global

Meski melakukan ekspansi, Richie menegaskan lini bisnis perusahaan di bidang desain interior tetap akan berjalan. Adapun ekspansi ke sektor batubara menjadi upaya perusahaan dalam menciptakan sumber pendapatan baru melalui diversifikasi usaha.

Untuk mendukung rencana akuisisi tersebut, MEJA juga berencana menggelar aksi penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Rencana ini akan dimintakan persetujuan kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Lebih lanjut, Richie menambahkan dari perspektif industri, sektor energi dinilai menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong pertumbuhan nilai perusahaan. Ketersediaan energi yang andal dan efisien tidak hanya mendukung operasional, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis. 

"Oleh karena itu, investasi di sektor ini dipandang sebagai langkah strategis yang memberikan leverage signifikan terhadap valuasi perusahaan," jelasnya.

TCP telah menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam sebagai kontraktor tambang untuk mengelola tambang batubara di Tungkal LIR, Sumatera Selatan. Target produksi di 2026 ditetapkan sebesar 1,5 juta ton, dengan Agro Energy Trading Pte. Ltd. sebagai pembeli siaga.

Pendiri PT Trimata Coal Perkasa, Subagio, menambahkan sinergi ini sejalan dengan upaya mendorong hilirisasi industri di Indonesia. 

“Energi adalah kunci. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor ini dapat menjadi enabler utama dalam meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas,” ungkapnya.

Prospek Kinerja MEJA

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menjelaskan prospek MEJA ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika sektor batubara itu sendiri, terutama terkait kebijakan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya), harga komoditas, serta kewajiban Domestic Market Obligation (DMO).

Dari sisi RKAB, persetujuan dan kuota produksi dari pemerintah akan menjadi kunci utama dalam menentukan seberapa besar volume batubara yang bisa diproduksi dan dijual. Artinya, meskipun cadangan besar, realisasi produksi tetap sangat tergantung pada regulasi. 

Kemudian dari sisi harga komoditas, batubara merupakan sektor yang sangat siklikal. Kinerja ke depan akan sangat sensitif terhadap pergerakan harga global. 

"Jika harga batubara berada dalam tren tinggi, maka potensi margin dan profitabilitas akan sangat menarik. Sebaliknya, saat harga melemah, tekanan terhadap kinerja akan signifikan," ucap Elandry kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Sementara itu, kebijakan DMO juga menjadi faktor penting karena sebagian produksi harus dijual ke pasar domestik dengan harga yang ditetapkan pemerintah atau biasanya lebih rendah dari harga pasar. Hal ini dapat membatasi potensi margin, terutama saat harga batubara global sedang tinggi.

Bagi investor, penting tidak hanya perlu melihat aksi akuisisi ini sebagai corporate action semata, tetapi juga harus memahami bahwa MEJA akan masuk ke industri dengan tingkat intervensi regulasi yang cukup tinggi. Faktor seperti perubahan kebijakan RKAB, penyesuaian porsi DMO, hingga arah kebijakan energi nasional akan sangat memengaruhi kinerja.

Selain itu, sensitivitas terhadap harga batubara global membuat saham ini berpotensi memiliki volatilitas tinggi mengikuti siklus komoditas. Oleh karena itu, investor perlu memantau indikator eksternal seperti harga batubara acuan, permintaan dari China dan India, serta kebijakan energi global.

Pendekatan yang disarankan adalah tetap selektif dan disiplin, dengan mengombinasikan analisis fundamental dan momentum harga komoditas.

Dari sisi teknikal, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat pergerakan MEJA masih berada di fase downtrendnya dan masih didominasi oleh tekanan jual. 

"MACD dan Stochastic masih bergerak terkoreksi ke area negatif dan netralnya," 

Herditya merekomendasikan untuk wait and see dengan level support Rp 97 dan resistance Rp113.

Baca Juga: Saat Pasar Turun, Ini Jadi Kesempatan Beli Unit Reksadana Lebih Banyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×