kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.933   47,00   0,26%
  • IDX 6.031   -115,44   -1,88%
  • KOMPAS100 775   -16,68   -2,11%
  • LQ45 594   -12,08   -1,99%
  • ISSI 211   -3,62   -1,69%
  • IDX30 330   -5,56   -1,66%
  • IDXHIDIV20 422   -7,90   -1,84%
  • IDX80 89   -1,90   -2,10%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,18%
  • IDXQ30 108   -1,77   -1,61%

Harga Nikel Tergerus, Analis Ungkap Prospek dan Saham Pilihan


Kamis, 08 Oktober 2026 / 17:02 WIB
Harga Nikel Tergerus, Analis Ungkap Prospek dan Saham Pilihan
ILUSTRASI. Merdeka Battery Materials, MBMA (DOK/MBMA)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga nikel global kembali tertekan dan berpotensi memengaruhi kinerja emiten produsen nikel pada kuartal IV 2026. Berdasarkan data Trading Economics, per Kamis (8/10/2026) pukul 16.15, harga nikel berada di level US$ 15.547 per ton, melemah 7,88% secara bulanan.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan, pelemahan harga nikel berpotensi menekan margin laba bersih dan pendapatan emiten pada kuartal IV 2026. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh oversupply pasokan global, khususnya akibat pesatnya kapasitas pengolahan nikel di Indonesia.

“Pelemahan harga nikel berpotensi menekan margin laba bersih dan pendapatan emiten pada Q4 2026. Penyebab utamanya adalah kondisi oversupply pasokan global terutama dari pesatnya kapasitas pengolahan di Indonesia serta pemulihan ekonomi kawasan global (seperti Tiongkok) yang cenderung lambat di sektor baja nirkarat (stainless steel),” kata David kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga: Kurs Rupiah Tertekan Yield AS dan Geopolitik, Intip Proyeksinya untuk Jumat (9/10)

Untuk menghadapi tekanan tersebut, David melihat sejumlah strategi dapat ditempuh emiten nikel. Salah satunya melalui efisiensi biaya operasional dengan mengoptimalkan cash cost dan memperketat belanja modal atau capex.

Selain itu, emiten dapat meningkatkan porsi produk hilir bernilai tambah tinggi seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte untuk memenuhi kebutuhan rantai pasok baterai. Penguatan integrasi rantai pasok melalui kolaborasi dengan mitra strategis global juga dinilai penting untuk mengamankan kontrak offtake jangka panjang.

Memasuki akhir 2026 hingga 2027, David memperkirakan prospek sektor nikel bergerak moderat dan cenderung konsolidatif. Pemulihan harga diperkirakan berlangsung bertahap seiring proses penyeimbangan pasokan global.

“Sentimen positifnya antara lain akselerasi adopsi EV global, peningkatan permintaan MHP, dan potensi stimulus ekonomi Tiongkok. Sementara sentimen negatifnya berasal dari risiko oversupply yang berlanjut, tren penurunan penggunaan baterai berbasis nikel karena persaingan dengan LFP, serta hambatan isu lingkungan atau ESG,” ujar David.

Dari sisi hilirisasi dan kendaraan listrik, David menilai kedua faktor tersebut dapat menjadi penahan tekanan terhadap kinerja emiten nikel. Produk olahan untuk rantai pasok baterai seperti MHP dan sulfat nikel memiliki margin yang lebih stabil dibandingkan produk nikel kelas rendah seperti ferronickel dan nickel pig iron (NPI).

Meski demikian, hilirisasi belum mampu mengimbangi tekanan harga global secara instan. Menurut David, pengembangan produk hilir lebih berperan dalam menjaga kesinambungan volume penjualan emiten.

Untuk pilihan saham, David menilai produsen dengan struktur biaya rendah dan paparan kuat terhadap ekosistem kendaraan listrik masih menarik dicermati. Dua emiten yang menjadi pilihannya adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

NCKL dinilai memiliki katalis dari ekspansi kapasitas high pressure acid leach (HPAL) dan efisiensi operasional. Sementara INCO didukung posisi cash cost yang kompetitif serta proyek HPAL jangka panjang bersama mitra global.

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, pelemahan harga nikel akan memberikan tekanan yang berbeda terhadap masing-masing emiten. Harga nikel yang turun berpotensi menekan harga jual rata-rata produk hilir seperti NPI dan nickel matte, sekaligus harga bijih karena harga patokan mineral atau HPM mengacu pada harga global.

“Tekanan paling berat dirasakan produsen NPI yang marginnya sudah menipis sejak kuartal II akibat kenaikan biaya input. Emiten dengan diversifikasi komoditas lebih terlindungi,” ujar Abida.

Abida melihat strategi mitigasi dapat dilakukan melalui efisiensi energi dan integrasi pasokan bijih dari tambang sendiri, menggeser bauran produk ke hilir bernilai lebih tinggi seperti MHP, serta mengamankan kontrak jangka panjang dengan offtaker.

Dari sisi pilihan saham, Abida menempatkan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebagai pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 4.900 per saham. Lebih dari separuh laba ANTM berasal dari perdagangan emas domestik sehingga kinerja perusahaan dinilai lebih tahan terhadap pelemahan harga nikel. Eksposur ekspor ANTM juga sekitar 2,5% dari pendapatan.

Untuk eksposur yang lebih langsung terhadap nikel, Abida memilih PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target harga Rp 880 per saham. Ramp-up proyek HPAL menjadi pendorong pertumbuhan MBMA, meski margin bisnis hilir masih tertekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×