kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Laba Triputra (TAPG) Diproyeksi Tembus Rp 3,5 Triliun di Sembilan Bulan 2026


Kamis, 08 Oktober 2026 / 06:05 WIB
Laba Triputra (TAPG) Diproyeksi Tembus Rp 3,5 Triliun di Sembilan Bulan 2026
ILUSTRASI. Pabrik kelapa sawit PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) (Dok/TAPG)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diperkirakan tetap solid hingga sembilan bulan di 2026. Namun, produksi TAPG pada 2027 berpotensi menghadapi tekanan akibat cuaca kering yang dipicu El Nino serta kenaikan biaya pupuk.

Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dalam riset Rabu (7/10/2026) memperkirakan laba bersih inti atau core net profit TAPG pada sembilan bulan 2026 mencapai Rp 3,5 triliun. Angka tersebut meningkat 28% secara tahunan dan setara dengan sekitar 85% dari proyeksi konsensus untuk tahun penuh 2026.

Capaian tersebut jauh di atas rata-rata pencapaian sembilan bulan terhadap laba tahunan dalam tiga tahun terakhir yang sebesar 64%.

Baca Juga: Produksi & Ekspansi Jadi Penopang Pertamina Geothermal (PGEO), Ini Rekomendasi Analis

Halima menilai pertumbuhan laba TAPG terutama ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan harga crude palm oil (CPO) yang lebih tinggi.

"Pada sembilan bulan di 2026, kami memperkirakan core net profit mencapai Rp 3,5 triliun atau tumbuh 28% secara year on year (yoy), didukung oleh volume penjualan yang lebih tinggi dan harga CPO," tulis Halima dalam risetnya.

Memasuki kuartal III 2026, kinerja TAPG diperkirakan masih bertahan kuat meski produksi mengalami penurunan. Indo Premier memperkirakan core net profit TAPG pada kuartal III 2026 sebesar Rp 1,4 triliun, naik 4% secara kuartalan.

Pertumbuhan tersebut dinilai tetap solid mengingat laba inti TAPG pada kuartal II 2026 sebelumnya telah melonjak 83% secara kuartalan.

Halima memperkirakan produksi TAPG turun sekitar 5% secara quarter on quarter (qoq) pada kuartal III 2026. Namun, volume penjualan justru diproyeksikan meningkat 12% qoq menjadi sekitar 245.000 ton.

Kenaikan penjualan tersebut diperkirakan berasal dari pelepasan persediaan (inventory drawdown), sehingga penurunan produksi tidak langsung tercermin pada volume penjualan.

Di sisi lain, harga CPO yang diperkirakan meningkat 2% qoq serta penggunaan pupuk yang lebih rendah akan membantu menopang margin TAPG pada kuartal III 2026.

Meski prospek jangka pendek masih positif, Indo Premier melihat adanya risiko penurunan kinerja TAPG pada 2027.

Manajemen TAPG memperkirakan produksi pada 2027 turun sekitar 5%-10% yoy akibat kondisi kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi Indo Premier yang sebelumnya memperkirakan penurunan produksi hanya sekitar 3% yoy.

Baca Juga: Asing Net Sell Jumbo Rp 871 Miliar, Cermati Saham yang Banyak Dijual, Rabu (7/10)

Selain produksi, tekanan juga datang dari biaya pupuk. Manajemen memperkirakan biaya pupuk meningkat sekitar 25% yoy pada 2027. Pupuk sendiri menyumbang sekitar 40% dari total biaya TAPG.

Untuk menjaga tingkat hasil panen, penggunaan pupuk diperkirakan tetap stabil meski harga pupuk meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap margin dan laba perseroan.

Berdasarkan panduan manajemen tersebut, Indo Premier memperkirakan terdapat risiko penurunan 5%-13% terhadap proyeksi core net profit TAPG untuk 2027.

"Risiko tersebut mengimplikasikan pertumbuhan laba yang datar hingga turun 8% yoy dibandingkan 2026F," tulis Halima.

Dampak UU Agraria

Selain faktor operasional, Indo Premier juga menyoroti dampak aturan agraria baru terhadap TAPG, khususnya terkait kewajiban penyediaan lahan sebesar 20% untuk HGU/IUP.

Manajemen TAPG berpandangan bahwa ketentuan 20% tersebut dihitung berdasarkan luas area HGU. Perusahaan ini menilai telah memenuhi ketentuan tersebut melalui area plasma dan kemitraan yang dimiliki.

Namun, perusahaan patungan alias joint venture (JV) TAPG masih berada di bawah ambang batas tersebut. Untuk memenuhi ketentuan, JV TAPG tengah mengupayakan tambahan lahan sekitar 4.000 hektare.

Tambahan lahan tersebut diperkirakan membutuhkan kompensasi lahan sekitar Rp 80 miliar. Nilai tersebut nantinya akan dikapitalisasi sebagai piutang plasma.

Sementara itu, terkait batas maksimum kepemilikan lahan, manajemen TAPG belum memiliki pandangan yang jelas dan masih menunggu aturan turunan, termasuk Peraturan Pemerintah (PP) yang akan mengatur batas kepemilikan serta kemungkinan pengecualian.

Baca Juga: Fortune (FORU) Catat 169,38 Miliar HMETD Dieksekusi, 45,72 Miliar Tak Terlaksana

Manajemen juga memperkirakan hak atas lahan yang telah dimiliki saat ini tetap berlaku secara non-retroaktif. Dengan demikian, risiko terhadap perpanjangan HGU dalam jangka pendek dinilai masih terbatas. HGU TAPG terdekat yang akan berakhir baru pada 2036.

Diberi rekomendasi buy

Dengan mempertimbangkan kinerja yang masih kuat pada paruh kedua 2026, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi tactical buy untuk saham TAPG.

Halima menilai kinerja keuangan yang solid dapat menjadi katalis bagi pergerakan saham TAPG dalam jangka pendek, meskipun ruang kenaikan harga menuju target harga Indo Premier dinilai terbatas.

Selain potensi kenaikan harga saham, daya tarik TAPG juga berasal dari imbal hasil dividen yang diperkirakan lebih dari 10%.

Dengan memasukkan potensi dividend yield tersebut, total imbal hasil bagi pemegang saham (total shareholder return) TAPG berpotensi melebihi 10%.

“Kami berpandangan solid earnings akan mendukung harga saham dalam jangka pendek meski ruang kenaikan menuju target harga kami terbatas. Dengan dividend yield lebih dari 10%, total shareholder return dapat melampaui 10%, sehingga kami mempertahankan rekomendasi tactical buy," tulis Halima.

Adapun risiko utama terhadap rekomendasi tersebut berasal dari volume penjualan serta perubahan regulasi yang dapat memengaruhi operasional dan struktur biaya TAPG.

Hingga akhir 2026, TAPG diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 13 triliun dengan laba bersih Rp 4,75 triliun. Sedangkan pendapatan dan laba bersih di 2027 masing-masing akan mencapai Rp 14,136 triliun dan Rp 4,98 triliun. 

Pada Rabu (7/10/2026) harga saham TAPG ditutup turun 0,5% di level Rp 2.010 per saham. Sedangkan dalam lima hari saham TAPG masih naik 3,08%. 

Baca Juga: Dividen Interim vs SBN Ritel, Mana Lebih Menarik?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×