kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.933   47,00   0,26%
  • IDX 6.031   -115,44   -1,88%
  • KOMPAS100 775   -16,68   -2,11%
  • LQ45 594   -12,08   -1,99%
  • ISSI 211   -3,62   -1,69%
  • IDX30 330   -5,56   -1,66%
  • IDXHIDIV20 422   -7,90   -1,84%
  • IDX80 89   -1,90   -2,10%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,18%
  • IDXQ30 108   -1,77   -1,61%

Kurs Rupiah Tertekan Yield AS dan Geopolitik, Intip Proyeksinya untuk Jumat (9/10)


Kamis, 08 Oktober 2026 / 16:48 WIB
Kurs Rupiah Tertekan Yield AS dan Geopolitik, Intip Proyeksinya untuk Jumat (9/10)
ILUSTRASI. Tingginya imbal hasil obligasS dan panasnya tensi geopolitik diperkirakan masih menjadi rintangan berat bagi laju mata uang rupiah di akhir pekan.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan panasnya tensi geopolitik diperkirakan masih menjadi rintangan berat bagi laju mata uang rupiah di akhir pekan.

Melansir data Bloomberg pada Kamis (8/10/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah 28 poin atau 0,16% ke level Rp 17.915 per dolar AS, searah dengan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia yang turut terdepresiasi sebesar Rp 10 atau melemah 0,06% menjadi Rp 17.890 per dolar AS.

Mengevaluasi pergerakan pada Kamis (8/10/2026), Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai, pelemahan mata uang Garuda lebih banyak bersifat teknikal dan belum menunjukkan perubahan fundamental yang kuat. Rupiah yang sempat menguat di pagi hari akhirnya berbalik tertekan lantaran pasar kembali memperhitungkan tingginya imbal hasil (yield) US Treasury dan meningkatnya risiko geopolitik.

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Bor 113 Titik pada Kuartal III-2026, Estimasi Dana Rp 42,86 Miliar

Untuk perdagangan Jumat (9/10/2026), Yusuf menjelaskan bahwa perhatian utama pasar global masih akan tertuju pada arah kebijakan The Fed dan pergerakan yield obligasi AS. Tingginya posisi imbal hasil tersebut membuat daya tarik aset dolar tetap kuat, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang menjadi sangat terbatas.

"Risalah FOMC September menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun," ungkap Yusuf kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Lebih lanjut, investor juga tengah menanti rilis data klaim pengangguran AS. Apabila data tenaga kerja kembali solid, ekspektasi kebijakan moneter ketat akan kembali menguat dan mendorong dolar AS.

Sebaliknya, data yang lebih lemah bisa memberi ruang bagi rupiah untuk bernapas lebih panjang. Dari sisi geopolitik, eskalasi di Timur Tengah juga menjadi ancaman nyata.

Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan akan memberikan tekanan ganda bagi rupiah, yakni naiknya kebutuhan dolar AS untuk impor energi serta beralihnya preferensi investor ke aset safe haven.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan pada Perdagangan Jumat (9/10), Dibayangi Sentimen Global

Dari sisi domestik, fundamental Indonesia sebenarnya memiliki bantalan yang cukup kokoh berupa cadangan devisa sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September lalu.

Posisi ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk bermanuver menjaga stabilitas valas di pasar.

"Stabilitas rupiah bukan berarti tanpa biaya, karena intervensi valas pada akhirnya menggunakan sebagian buffer tersebut," terang Yusuf.

Oleh karena itu, BI dinilai tidak akan sekadar mengandalkan intervensi, melainkan melakukan bauran kebijakan moneter lainnya.

Walaupun keyakinan konsumen dan fundamental fiskal domestik relatif terjaga, Yusuf mengingatkan bahwa saat tekanan eksternal meningkat tajam, para investor emerging market biasanya menjadi lebih selektif sehingga sentimen positif dari dalam negeri belum tentu langsung diterjemahkan menjadi penguatan rupiah.

Dengan mempertimbangkan ragam sentimen tersebut, Yusuf memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (9/10/2026) akan berada di kisaran Rp 17.890 hingga Rp 17.960 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah terbatas.

Ruang tekanan menuju batas psikologis Rp 18.000 masih terbuka jika yield AS kembali melonjak atau konflik geopolitik memburuk.

Namun, skenario pelemahan tajam dinilai bukan sebagai baseline utama karena intervensi BI dipastikan akan hadir di sekitar level tersebut untuk meredam volatilitas pasar secara cepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×