Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman defisit ketersediaan fisik akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah telah memicu kepanikan beli di pasar energi, sehingga mendorong harga minyak mentah global melanjutkan tren penguatan.
Berdasarkan data Bloomberg, harga WTI tercatat US$ 103,77 per barel atau menguat 1,70%, sementara harga Brent bertengger di posisi US$ 117,08 per barel, menguat 1,92%.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menuturkan, tren bullish atau penguatan harga minyak ini berpeluang besar untuk terus berlanjut lantaran arah pergerakan pasar jangka pendek saat ini lebih dari 70% dikendalikan oleh gejolak geopolitik.
Risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya potensi perlawanan skala penuh (all out war) dari Iran dan respons militer dari Amerika Serikat, membuat ketersediaan fisik riil komoditas energi tersebut berada di bawah ancaman langsung.
Baca Juga: Laba Indosat Melonjak 37%, Ini Prospek Saham ISAT dan Target Harganya
Ketegangan di area produksi strategis tersebut dengan cepat memicu langkah antisipasi dari para importir, khususnya di kawasan Asia, yang memborong ketersediaan minyak sebagai upaya precautionary buying demi mengamankan kebutuhan domestik mereka.
"Serangan ke fasilitas Shaybah dan ancaman blokade jalur perkapalan Teluk mengancam jutaan barel pasokan harian," ungkap Wahyu kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Di sisi lain, tingginya level harga energi dan suku bunga berpotensi menekan konsumsi bahan bakar industri di Tiongkok maupun negara-negara berkembang lainnya.
Faktor pelemahan permintaan (demand destruction) ini pada dasarnya bertindak sebagai penahan laju kenaikan harga di level atas. Meski demikian, sentimen geopolitik yang ekstrem membuat perlambatan konsumsi tersebut menjadi tidak relevan di mata para pelaku pasar untuk saat ini.
"Namun, dalam jangka pendek, kepanikan defisit pasokan fisik mengesampingkan kekhawatiran pelemahan permintaan tersebut," kata Wahyu.
Memasuki pengujung tahun 2026, arah pergerakan kedua acuan harga minyak diperkirakan tetap bertahan di level tinggi dengan rentang volatilitas yang lebar akibat sensitivitas berita politik dan kebijakan.
Baca Juga: Peretasan Binance Bayangi Pasar Kripto, Simak Prospek Bitcoin
Dalam skenario umum, Wahyu memproyeksikan harga minyak Brent bergerak di kisaran US$ 80-US$ 110 per barel, dengan batas penahan laju (resistance) kuat jangka menengah di level US$ 120 per barel.
Sementara itu, acuan WTI diproyeksikan melaju di rentang US$ 75 - US$ 105 per barel, di mana selisih harga (spread) terhadap Brent masih akan terus bertahan lebar di kisaran US$ 8 - US$ 13 per barel sebagai imbas dari diskon risiko geografis minyak Amerika Serikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














