kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.637.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.657   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.620   -16,80   -0,25%
  • KOMPAS100 866   -0,88   -0,10%
  • LQ45 656   -1,17   -0,18%
  • ISSI 231   0,64   0,28%
  • IDX30 367   -0,76   -0,21%
  • IDXHIDIV20 454   -0,16   -0,04%
  • IDX80 99   -0,07   -0,07%
  • IDXV30 126   0,61   0,49%
  • IDXQ30 118   -0,24   -0,21%

Asing Mulai Re-entry ke Pasar Saham, Intip Rekomendasi Saham yang Menarik Dicermati


Senin, 07 September 2026 / 15:43 WIB
Asing Mulai Re-entry ke Pasar Saham, Intip Rekomendasi Saham yang Menarik Dicermati
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham yang layak dilirik saat pasar saham kembali diincar investor asing (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini membuka peluang terjadinya tactical re-entry investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Dalam laporan Indonesia Equities: Foreign Flows, September 2026, Sufianti, Equity Strategist Bloomberg Intelligence mengatakan, Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan di tengah arus keluar dana asing yang kembali terjadi di kawasan Asia Tenggara pada Agustus 2026. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya pasar di Asia Tenggara yang masih mencatat arus masuk asing, meski tipis.

"Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan," tulis Sufianti dalam laporan tersebut yang dikutip oleh Kontan, Senin (7/9/2026).

Tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar juga mulai berkurang. Berdasarkan estimasi berbasis volume-weighted average price (VWAP), akumulasi outflow dari konstituen LQ45 menyusut menjadi kurang dari Rp 2 triliun pada Agustus 2026, dari sekitar Rp 4 triliun pada Juli dan lebih dari Rp 15 triliun pada Juni.

Baca Juga: NAB Reksadana Naik Tipis, Net Redemption Rp 8,5 Triliun per Agustus 2026

Jumlah saham LQ45 yang mencatat outflow juga turun menjadi 27 saham pada Agustus, dibandingkan 34 saham pada Juli dan 36 saham pada Juni.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston bilang, perkembangan tersebut dapat menjadi indikasi awal bahwa investor asing mulai kembali meningkatkan eksposurnya terhadap aset Indonesia. Namun, ia belum melihat kondisi tersebut sebagai pembalikan tren secara struktural.

"Ini sinyal awal asing mulai kembali meningkatkan eksposurnya di Indonesia, meski belum bisa disebut pembalikan tren secara struktural," ujar Irwan kepada Kontan, Senin (7/9/2026).

Indikasi re-entry tersebut juga terlihat dari pergerakan asing pada periode 31 Agustus-4 September 2026. Pada periode tersebut, investor asing mencatat net buy sekitar Rp 1,85 triliun, dengan aliran dana terutama masuk ke saham-saham bank besar.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat net foreign buy sekitar Rp 1,41 triliun, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 1,2 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 1,01 triliun dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sekitar Rp 261 miliar.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy juga melihat adanya indikasi awal re-entry asing, khususnya pada saham perbankan berkapitalisasi besar.

Menurut Budi, pada pekan yang sama investor asing membukukan net buy sekitar Rp 2,3 triliun. Namun, posisi tersebut masih perlu dilihat dalam konteks arus dana sepanjang tahun karena asing masih mencatat outflow secara kumulatif.

Baca Juga: ICX Proyeksikan Penghimpunan Dana Bisa Tumbuh 243% hingga Akhir Tahun

"Namun saya belum menyebutnya sebagai pembalikan tren sepenuhnya karena secara YTD asing masih mencatat outflow sekitar US$ 3,94 miliar. Jadi saat ini lebih tepat disebut awal dari tactical re-entry," kata Budi.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026), mencatat investor asing membukukan net inflow Rp 2,3 triliun di seluruh pasar sepanjang pekan 31 Agustus-4 September 2026. Adapun di pasar reguler, net inflow mencapai Rp1,6 triliun.

"Secara kumulatif investor asing membukukan net inflow Rp 2,3 triliun di seluruh pasar dan Rp 1,6 triliun di pasar reguler, dengan konsentrasi pembelian pada big banks: BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI yang bersama-sama mencatat net foreign buy lebih dari Rp3,19 triliun di pasar reguler," ujar David.

Menurut Irwan, peluang berlanjutnya arus masuk asing hingga akhir 2026 masih terbuka. Namun, keberlanjutan tren tersebut akan sangat ditentukan oleh kondisi global, khususnya arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September sekitar 58%. Jika kenaikan tersebut telah diperhitungkan pasar dan The Fed tidak memberikan sinyal yang terlalu hawkish, arus dana asing ke Indonesia berpeluang berlanjut.

Sebaliknya, kejutan hawkish dari The Fed berpotensi kembali mendorong kenaikan yield US Treasury dan dolar AS. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik aset emerging markets, termasuk Indonesia.

Selain kebijakan The Fed, investor juga perlu mencermati stabilitas rupiah, pergerakan yield US Treasury, kebijakan Bank Indonesia serta pertumbuhan laba emiten. Faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah arus masuk asing hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi tren yang lebih berkelanjutan.

 

Budi menambahkan, peluang re-entry asing akan semakin besar apabila rupiah tetap stabil, yield obligasi terkendali, fundamental ekonomi terjaga dan valuasi saham Indonesia masih menarik.

"Faktor terpenting adalah arah The Fed dan BI, pergerakan rupiah, serta kepercayaan investor global terhadap kebijakan ekonomi dan reformasi pasar modal Indonesia," jelas Budi.

Dari sisi sektor, perbankan big caps masih menjadi kandidat utama tujuan investor asing. Irwan menilai BBRI, BBCA, BMRI dan BBNI berpeluang tetap menjadi sasaran karena memiliki likuiditas tinggi dan menjadi proxy bagi investor asing untuk mendapatkan eksposur terhadap pasar Indonesia.

Setelah perbankan, peluang rotasi dapat mengarah ke sektor komoditas dan energi. Irwan menyebut ANTM, AMMN dan INCO sebagai sejumlah saham yang menarik dicermati, terutama emiten dengan visibilitas laba yang relatif baik.

Di sisi lain, Budi melihat potensi aliran dana asing juga dapat merambah sektor telekomunikasi, konsumer dan industrial. Sejumlah big caps seperti TLKM, ASII, INDF dan UNTR dinilai menarik diperhatikan karena memiliki likuiditas tinggi dan relatif mudah menjadi pilihan investor institusi.

"Untuk riding the flow, saya lebih memilih saham fundamental besar daripada mengejar saham lapis dua yang sudah naik tinggi," tutur Budi.

Meski peluang re-entry asing mulai terbuka, investor domestik tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko. Irwan menyebut stabilitas rupiah, yield US Treasury, kebijakan The Fed dan BI serta perkembangan laba emiten menjadi indikator penting untuk memantau keberlanjutan arus dana asing.

Baca Juga: Rupiah Balik Arah: Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.640 Per Dolar AS Hari Ini (7/9)

Dalam jangka pendek, FOMC 15-16 September akan menjadi salah satu ujian penting. Selain keputusan suku bunga, data inflasi Amerika Serikat atau CPI juga berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Budi menambahkan, kenaikan yield US Treasury dan harga minyak akibat faktor geopolitik juga dapat kembali mengganggu arus modal ke emerging markets. Karena itu, investor perlu memperhatikan pergerakan yield US Treasury dan harga minyak bersamaan dengan foreign flow.

Di tengah kondisi tersebut, Irwan menyarankan investor untuk tidak mengejar saham yang sudah mengalami kenaikan akibat masuknya dana asing. Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah akumulasi bertahap, terutama ketika terjadi koreksi tetapi arus dana asing dan fundamental emiten tetap terjaga.

"Strategi saya saat ini adalah accumulate on weakness, sambil menunggu konfirmasi apakah recovery foreign flow ini bersifat berkelanjutan," pungkas Irwan.

Senada, Budi merekomendasikan strategi buy on weakness pada saham-saham big caps dan tidak mengejar harga setelah terjadi reli. Menurutnya, koreksi justru dapat menjadi kesempatan masuk apabila fundamental dan aliran dana asing masih mendukung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×