kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Harga Livebird Bisa Jadi Katalis, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham CPIN


Senin, 22 Juni 2026 / 19:16 WIB
Harga Livebird Bisa Jadi Katalis, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham CPIN
ILUSTRASI. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) (DOK /CPIN)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan kinerja positif pada kuartal I – 2026. Harga livebird diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja CPIN ke depan. 

CPIN mencatat pendapatan sebesar Rp 19,95 triliun, naik 12,69% secara year on year (yoy) pada kuartal I – 2026. Laba bersih CPIN juga melonjak 62,72% yoy menjadi Rp 2,57 triliun. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan laba bersih pada kuartal I – 2026 tersebut membentuk 41% estimasi tahun 2026 BRI Danareksa Sekuritas yang jauh di atas ekspektasi. 

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Baramulti (BSSR) di Tengah Harga Batubara yang Stabil

Net cash position pertama sejak 2012 menjadi sinyal kekuatan neraca yang membuka ruang ekspansi dan dividen lebih besar ke depan.

Sebab itu, prospek kinerja CPIN hingga kuartal III – 2026 diperkirakan mencapai momentum solid meski ada normalisasi pasca Lebaran. 

“Kinerja positif CPIN pada kuartal I diperkirakan berlanjut pada kuartal II dan kuartal III, namun lebih moderat,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (22/6/2026).

Abida melihat katalis positif yang mendukung proyeksi tersebut antara lain harga livebird yang favorable, pemulihan processed food dengan margin 15,6%, dan fleksibilitas keuangan dari posisi net cash. 

 

Namun Risiko yang perlu dicermati di antaranya normalisasi margin pasca Lebaran, harga jagung dan soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai yang masih tinggi, serta buffer inventori kuartal IV – 2025 yang sudah habis terpakai di kuartal I – 2026 sehingga tidak tersedia di kuartal II – 2026. 

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Golden Energy (GEMS) yang Kinerja Turun di Kuartal I-2026

Abdusshomad Cakra Buana, Analis Bahana Sekuritas menilai CPIN berada pada posisi yang relatif baik terhadap depresiasi rupiah meskipun memiliki eksposur bahan baku yang terkait dengan dolar Amerika Serikat (AS). 

Khususnya bungkil kedelai yang menyumbang sekitar 25% dari biaya pakan. Meski rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% secara year to date (ytd) per 15 Mei 2026 dengan tanda-tanda terbatas untuk kembali ke kisaran Rp 16.000 – Rp 16.500 per dolar AS, risiko nilai tukar CPIN dapat diredam oleh neraca keuangannya yang terjaga. 

Hal ini didukung oleh posisi kas bersih USD sebesar Rp 182 miliar pada kuartal I – 2026. 

“Sehingga relatif kurang terekspos dibandingkan dengan perusahaan sejenis seperti JPFA yang masih memiliki posisi utang bersih USD sebesar Rp 3,6 triliun,” ujar Abdusshomad dalam risetnya pada 15 Mei 2026. 

Namun demikian Abdusshomad menyoroti impor bungkil kedelai terpusat melalui PT Berdikari (ID Food) mulai terwujud di seluruh industri sejak April 2026.

Meski CPIN belum memberikan panduan resmi, manajemen menyoroti dua kemungkinan skema. Yakni mengimpor langsung melalui Berdikari atau pengadaan secara independen sambil membayar biaya kepada Berdikari.

Abdusshomad bilang, CPIN lebih memilih opsi yang kedua mengingat risiko pengiriman yang lebih rendah meskipun biaya tunai masih lebih tinggi. 

“Karena persediaan pakan ternak diperkirakan akan tetap mencukupi hingga Mei, kami memperkirakan dampaknya akan mulai masuk ke pembukuan CPIN mulai Juni dan seterusnya, berpotensi meningkatkan biaya tunai SBM tahun 2026 sebesar 17% secara year on year (yoy),” ucap Abdusshomad.

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Alex Manoonpol melihat CPIN yang memperkirakan normalisasi pengeluaran rumah tangga pasca lebaran akan mendorong penurunan harga. 

Akan tetapi menekankan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) pemerintah memberikan dasar permintaan struktural, mengurangi risiko koreksi tajam kembali ke titik terendah sebelumnya yang sekitar Rp 16.000 per kilogram (kg) pada tahun 2025.

Manajemen juga mempertahanka panduan pertumbuhan volume sekitar 10% untuk tahun fiskal 2026, didorong oleh konsumsi unggas yang stabil dan paparan tidak langsung terhadap permintaan MBG. 

Baca Juga: Dibayangi Sentimen Daya Beli, Simak Rekomendasi Saham Sektor Ritel

“Sementara daya beli tetap menjadi kendala untuk pertumbuhan yang lebih cepat dalam makanan olahan,” terang Alex. 

Alex melihat risiko CPIN ke depan meliputi harga bahan baku yang lebih tinggi seperti jagung dan bungkil kedelai, harga unggas yang lebih rendah, depresiasi rupiah, dan permintaan unggas yang lebih rendah. 

Selain itu, risiko spesifik industri meliputi pemulihan konsumsi yang lebih lambat dari perkiraan dan perubahan kondisi ekonomi, perubahan tren demografis, tren yang meningkat menuju daging nabati, wabah penyakit, bencana alam, peraturan pemerintah tentang tindakan pemusnahan, dan peraturan tentang penggunaan bahan kimia, serta dukungan pemerintah untuk harga unggas. 

Meski begitu, Abdusshomad memperkirakan pendapatan CPIN akan tetap berada pada tren kenaikan, meskipun ekspansi margin mungkin akan melambat pada tahun 2026. 

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Estika Tata Tiara (BEEF) di Tengah Transformasi Bisnis

Pandangan tersebut didukung oleh pemulihan yang lebih struktural di segmen makanan olahan, bersamaan dengan harga unggas yang kemungkinan akan tetap tinggi. 

Namun, potensi peningkatan margin mungkin dibatasi oleh biaya tunai SBM yang lebih tinggi dan potensi tekanan harga jagung dari kemungkinan dampak El Niño pada semester II – 2026. 

“Pada tahun 2027, kami memperkirakan peningkatan skala ekonomi dari pabrik baru CPIN di Sulawesi akan memberikan dukungan tambahan,” kata Abdusshomad. 

Abdusshomad memproyeksikan pendapatan dan laba bersih CPIN tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 76,64 triliun dan Rp 6,08 triliun. Adapun pada tahun 2025 CPIN mengantongi pendapatan Rp 70,70 triliun dan laba bersih Rp 5,64 triliun. 

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten yang Mau Private Placement, Mana yang Paling Menarik

Abdusshomad, Alex, dan Abida merekomendasikan buy saham CPIN dengan target harga masing – masing Rp 6.500 per saham, Rp 6.200 per saham, dan Rp 5.900 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×