Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Jumat (7/8/2026), dengan indeks S&P 500 mencetak rekor penutupan baru.
Penguatan Wall Street terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Lanjutkan Spin Off Bisnis Fiber Rp 49,85 Triliun ke Infranexia
Mengutip Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) justru turun 23.000 pekerjaan pada Juli 2026.
Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan.
Selain itu, data penciptaan lapangan kerja pada dua bulan sebelumnya direvisi turun secara signifikan. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,1% pada Juli dari 4,2% pada Juni.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah pekerja yang berada dalam angkatan kerja.
Data tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September.
Baca Juga: BBCA, BMRI dan ASII di Urutan Teratas, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing, Jumat (7/8)
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga kini berada di sekitar 44%, turun dari 55% pada sesi sebelumnya dan 67% sepekan sebelumnya.
Meredanya harga minyak juga turut mendukung sentimen pasar. Kemajuan dalam pembicaraan mengenai potensi kesepakatan damai terkait perang Iran membantu menekan harga minyak.
Kondisi tersebut kemudian meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turut memberikan dorongan bagi aset berisiko, termasuk saham.
"Anda mungkin harus menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja, tetapi jika suku bunga diturunkan, Anda juga akan mendorong inflasi. Jadi, kondisi saat ini cukup sulit, tetapi pasar justru terus melaju karena kinerja laba perusahaan sangat kuat," ujar Tom Siomades, Chief Market Economist AE Wealth Management.
Menurutnya, pasar seharusnya merespons data lapangan kerja yang lemah, inflasi yang masih tinggi, serta risiko perlambatan ekonomi yang justru dapat meningkatkan kebutuhan kenaikan suku bunga.
"Pasar seharusnya bereaksi terhadap angka lapangan kerja yang lemah dan inflasi yang lebih tinggi serta kemungkinan ekonomi tumbuh lambat yang mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pasar mencetak rekor," kata Siomades.
Baca Juga: Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi The Fed Tahan Suku Bunga
Kinerja Wall Street
Musim laporan keuangan yang kuat juga membantu meredam kekhawatiran investor terkait besarnya belanja perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kecerdasan buatan (AI).
Dari 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja keuangan hingga Jumat pagi, sebanyak 85,1% berhasil melampaui ekspektasi analis, berdasarkan data LSEG. Angka tersebut jauh di atas rata-rata 68% sejak 1994.
Baca Juga: Dolar AS Melemah Usai Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi The Fed Tahan Suku Bunga
Pada penutupan perdagangan Jumat, Dow Jones Industrial Average naik 151,83 poin atau 0,28% menjadi 54.036,93. Indeks S&P 500 bertambah 47,68 poin atau 0,62% menjadi 7.757,64.
Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 342,26 poin atau 1,30% ke level 26.690,62.
Dalam sepekan, S&P 500 menguat 3,58%, Nasdaq naik 5,19%, sedangkan Dow Jones meningkat 2,96%. Ketiga indeks tersebut mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan April.
Sejumlah saham mencatat pergerakan signifikan. Saham SpaceX melonjak 15,8% sehari setelah berakhirnya pembatasan penjualan saham pertama dari sejumlah pembatasan lock-up pasca penawaran saham besar perusahaan pada Juni.
Saham Atlassian juga melesat 35,3%, mencatat kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan, setelah memproyeksikan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi.
Saham Microchip Technology naik 13,9%, menjadi kenaikan harian terbaik dalam lebih dari 15 bulan setelah perusahaan memperkirakan pendapatan kuartalan di atas proyeksi pasar.
Baca Juga: Wall Street Menguat, Data Tenaga Kerja AS Redupkan Peluang Kenaikan Suku Bunga
Sementara itu, Airbnb menguat 17,4% dan menjadi saham dengan kinerja terbaik di S&P 500 setelah membukukan pendapatan kuartal II yang melampaui estimasi analis.
Sebaliknya, saham Trade Desk anjlok 21,9% dan menjadi saham dengan kinerja terburuk di indeks S&P 500.
Penurunan terjadi setelah perusahaan teknologi periklanan tersebut memproyeksikan pendapatan kuartal III di bawah ekspektasi pasar.
Di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS dinilai memberikan sedikit panduan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Kondisi tersebut membuat investor semakin bergantung pada data ekonomi dan komentar para pejabat The Fed dalam menentukan arah pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
