Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
Abdusshomad bilang, CPIN lebih memilih opsi yang kedua mengingat risiko pengiriman yang lebih rendah meskipun biaya tunai masih lebih tinggi.
“Karena persediaan pakan ternak diperkirakan akan tetap mencukupi hingga Mei, kami memperkirakan dampaknya akan mulai masuk ke pembukuan CPIN mulai Juni dan seterusnya, berpotensi meningkatkan biaya tunai SBM tahun 2026 sebesar 17% secara year on year (yoy),” ucap Abdusshomad.
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Alex Manoonpol melihat CPIN yang memperkirakan normalisasi pengeluaran rumah tangga pasca lebaran akan mendorong penurunan harga.
Akan tetapi menekankan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) pemerintah memberikan dasar permintaan struktural, mengurangi risiko koreksi tajam kembali ke titik terendah sebelumnya yang sekitar Rp 16.000 per kilogram (kg) pada tahun 2025.
Manajemen juga mempertahanka panduan pertumbuhan volume sekitar 10% untuk tahun fiskal 2026, didorong oleh konsumsi unggas yang stabil dan paparan tidak langsung terhadap permintaan MBG.
Baca Juga: Dibayangi Sentimen Daya Beli, Simak Rekomendasi Saham Sektor Ritel
“Sementara daya beli tetap menjadi kendala untuk pertumbuhan yang lebih cepat dalam makanan olahan,” terang Alex.
Alex melihat risiko CPIN ke depan meliputi harga bahan baku yang lebih tinggi seperti jagung dan bungkil kedelai, harga unggas yang lebih rendah, depresiasi rupiah, dan permintaan unggas yang lebih rendah.
Selain itu, risiko spesifik industri meliputi pemulihan konsumsi yang lebih lambat dari perkiraan dan perubahan kondisi ekonomi, perubahan tren demografis, tren yang meningkat menuju daging nabati, wabah penyakit, bencana alam, peraturan pemerintah tentang tindakan pemusnahan, dan peraturan tentang penggunaan bahan kimia, serta dukungan pemerintah untuk harga unggas.
Meski begitu, Abdusshomad memperkirakan pendapatan CPIN akan tetap berada pada tren kenaikan, meskipun ekspansi margin mungkin akan melambat pada tahun 2026.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Estika Tata Tiara (BEEF) di Tengah Transformasi Bisnis
Pandangan tersebut didukung oleh pemulihan yang lebih struktural di segmen makanan olahan, bersamaan dengan harga unggas yang kemungkinan akan tetap tinggi.
Namun, potensi peningkatan margin mungkin dibatasi oleh biaya tunai SBM yang lebih tinggi dan potensi tekanan harga jagung dari kemungkinan dampak El Niño pada semester II – 2026.
“Pada tahun 2027, kami memperkirakan peningkatan skala ekonomi dari pabrik baru CPIN di Sulawesi akan memberikan dukungan tambahan,” kata Abdusshomad.
Abdusshomad memproyeksikan pendapatan dan laba bersih CPIN tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 76,64 triliun dan Rp 6,08 triliun. Adapun pada tahun 2025 CPIN mengantongi pendapatan Rp 70,70 triliun dan laba bersih Rp 5,64 triliun.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten yang Mau Private Placement, Mana yang Paling Menarik
Abdusshomad, Alex, dan Abida merekomendasikan buy saham CPIN dengan target harga masing – masing Rp 6.500 per saham, Rp 6.200 per saham, dan Rp 5.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














