Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus berekspansi mengembangkan bisnisnya. Selain mengakuisisi tambang mineral nonbatubara, emiten Grup Bakrie ini juga hendak mengembangkan hilirisasi batubara menjadi metanol.
berita sebelumnya, BUMI telah menandatangani Scheme Implementation Deed (SID) dengan Loyal Metals Limited asal Australia yang merupakan perjanjian awal sebagai kerangka dasar untuk memulai proses akuisisi. Sampai saat ini, proses akuisisi masih berada pada tahap pemenuhan persyaratan, sehingga belum terjadi pengalihan dana maupun saham.
"Penyelesaian transaksi ini masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah persyaratan pendahuluan, antara lain persetujuan dari pemegang saham Loyal Metals dan pemenuhan proses dan ketentuan hukum yang berlaku di Australia," ujar Direktur Bumi Resources R.A. Sri Dharmayanti dalam keterbukaan informasi, Selasa (4/8).
Baca Juga: Kepemilikan Saham MAPI Berubah, Pacific Universal Lepas 4,98 Miliar Saham
Loyal Metals sendiri bergerak di bidang pertambangan komoditas mineral kritis, tembaga, emas, dan litium.
Pekan sebelumnya, BUMI melalui dua anak usahanya, PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), juga bakal mengeksekusi proyek hilirisasi batubara. Dalam hal ini, Arutmin dan KPC mengembangkan proyek batubara menjadi metanol (coal to methanol) melalui perusahaan patungan PT Bumi Etam Chemical (BEC).
Proyek yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur ini memiliki estimasi nilai investasi mencapai sekitar US$ 2,3 miliar. Pabrik tersebut akan menghasilkan metanol dan sulphuric acid sebagai produk sampingannya dengan kapasitas produksi sebesar 2 juta ton per tahun. Untuk tahap selanjutnya, KPC dan Arutmin berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, rencana akuisisi Loyal Metals Ltd serta pengembangan proyek hilirisasi batubara menjadi metanol mengindikasikan bahwa BUMI sedang berupaya melakukan diversifikasi portofolio dari perusahaan yang selama ini sangat bergantung pada batubara termal menuju perusahaan sumber daya alam yang lebih terdiversifikasi.
Langkah ini dinilai memiliki beberapa tujuan strategis. Di antaranya adalah mengurangi sensitivitas terhadap siklus harga batubara yang cenderung volatil, memperluas sumber pertumbuhan pendapatan melalui komoditas mineral yang memiliki prospek jangka panjang, hingga meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi batubara menjadi metanol sehingga tidak hanya mengandalkan penjualan batubara mentah.
Dalam jangka pendek, kontribusi terbesar pendapatan dan laba BUMI masih akan berasal dari KPC dan Arutmin. Namun, apabila proyek-proyek tersebut berjalan sesuai rencana, struktur pendapatan BUMI berpotensi menjadi lebih seimbang sehingga ketahanan bisnis terhadap fluktuasi harga batubara juga meningkat.
"Prospeknya cukup menarik, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan manajemen dalam mengeksekusi proyek tepat waktu, mengendalikan biaya, memperoleh pendanaan yang efisien, serta memastikan proyek menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang menarik," ungkap dia, Jumat (7/8).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, ekspansi ini akan memberi manfaat berupa diversifikasi pendapatan bagi BUMI dan margin yang lebih terprediksi dengan adanya hilirisasi produk bernilai tambah lebih. Akuisisi tambang di luar negeri juga akan membuka eksposur terhadap komoditas mineral dengan pendorong permintaan yang berbeda.
Namun, perlu diingat bahwa capital expenditure (capex) sebanyak US$ 2,3 miliar untuk proyek hilirisasi tergolong sangat besar bila dibandingkan dengan skala BUMI, ditambah emiten ini masih punya riwayat utang lama yang cukup besar sekalipun sudah pernah direstrukturisasi. Alhasil, struktur pendanaan akan berperan penting dalam kelancaran proyek tersebut.
Di samping itu, proses akuisisi Loyal Metals juga masih harus melalui tahap pemenuhan sejumlah persyaratan. Selama syarat belum terpenuhi, segalanya masih bisa terjadi.
"Dua inisiatif besar yang berlangsung bersamaan dapat meningkatkan risiko kompleksitas operasional secara signifikan," kata dia, Jumat (7/8).
Menurut Wafi, BUMI harus disiplin menentukan struktur pendanaan. Mereka mesti memprioritaskan mencari pendanaan proyek (project financing) atau kemitraan strategis dengan risiko yang bisa dibagi, ketimbang hanya mengandalkan kas internal.
Selain itu, BUMI patut realistis yang artinya jangan jalankan semua inisiatif secara bersamaan jika tanpa kejelasan tonggak pencapaian. "Transparansi komunikasi ke investor soal timeline dan kebutuhan kapital juga dibutuhkan, mengingat skeptisisme pasar terhadap Grup ini," imbuh dia.
Wafi menyarankan investor untuk wait and see saham BUMI.
Nafan juga menyebut, BUMI harus memastikan struktur pendanaan tetap sehat agar ekspansi tidak membebani neraca secara berlebihan. Mereka juga bisa memanfaatkan kemitraan strategis dengan mitra yang memiliki pengalaman teknis di sektor mineral maupun petrokimia untuk mengurangi risiko eksekusi.
Lantas, Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham BUMI dengan entry level di kisaran Rp 163--Rp 183 per saham serta target harga mulai dari Rp 188 per saham sampai Rp 224 per saham.
Baca Juga: Kepemilikan Saham MAPI Berubah, Pacific Universal Lepas 4,98 Miliar Saham
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
