kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Harga Emas Kembali Melejit, Prospek Saham ANTM, BRMS, MDKA hingga EMAS Ikut Terangkat


Selasa, 11 Agustus 2026 / 17:36 WIB
Harga Emas Kembali Melejit, Prospek Saham ANTM, BRMS, MDKA hingga EMAS Ikut Terangkat
ILUSTRASI. EMAS ANTAM (Dok/MIND ID)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nasib baik kembali menaungi emiten-emiten produsen emas, mengingat harga komoditas ini kembali terangkat dalam beberapa waktu terakhir.

Mengutip situs Trading Economics, harga emas dunia meningkat 10,29% dalam sebulan terakhir ke level US$ 4.374,54 per ons troi pada Selasa (11/8/2026) pukul 17.18 WIB.

Bersamaan dengan itu, harga saham-saham terkait komoditas emas juga meningkat. Contohnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang harga sahamnya naik 6,55% dalam sebulan terakhir ke level Rp 3.090 per saham hingga Selasa (11/8). Selain itu, harga saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga melesat 18,81% dalam sebulan terakhir ke level Rp 600 per saham.

Baca Juga: Jelang Putusan Terbaru MSCI, Investor Perlu Pantau Kelayakan Investasi Indonesia

Emiten lainnya, PT Amman Mineral Indonesia Tbk (AMMN) mencatat kenaikan harga saham 21,08% dalam sebulan terakhir ke level Rp 4.250 per saham. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga mengalami kenaikan harga saham 13,62% dalam sebulan terakhir ke level Rp 2.920 per saham.

Anak usahanya, yaitu PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), turut mengalami penguatan harga saham 37,22% dalam sebulan terakhir ke level Rp 7.650 per saham.

Ada pula PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang sahamnya naik 22,50% ke level Rp 1.225 per saham dalam sebulan terakhir.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, sektor emas tetap menjanjikan prospek menarik sejalan dengan harga emas yang kembali rebound setelah sebelumnya sempat terkoreksi cukup dalam. Secara teknikal, area US$ 4.000 per ons troi menjadi support psikologis yang cukup kuat, sehingga selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, maka harga emas masih berpeluang bertahan di level tinggi lebih lama. 

Dari sisi fundamental, permintaan emas juga masih cukup kuat, terutama dari bank sentral yang mulai meningkatkan diversifikasi cadangan devisa. Jadi, bukan berarti seluruh negara langsung meninggalkan dolar AS, melainkan memang terlihat adanya tren mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan meningkatkan porsi emas sebagai aset cadangan. 

Untuk jangka pendek, kenaikan harga emas juga masih ditopang oleh ketidakpastian geopolitik, terutama perkembangan negosiasi AS-Iran yang kembali mengalami kebuntuan, sehingga permintaan terhadap aset safe haven meningkat. 

Dengan kondisi tersebut, emiten emas masih mempunyai peluang mencatat kinerja operasional dan keuangan yang lebih baik pada semester II-2026, terutama apabila harga emas mampu bertahan di level tinggi. Namun, kenaikan harga emas tidak otomatis memberikan dampak yang sama kepada seluruh emiten. 

Baca Juga: Kembali Naik, Begini Proyeksi Harga Minyak Brent dan WTI

Kinerja masing-masing akan sangat ditentukan oleh volume produksi, kadar bijih, recovery rate, All in Sustaining Cost (AISC), serta keberhasilan ekspansi tambang. "Harga emas yang tinggi tidak akan memberikan dampak optimal apabila produksi turun atau biaya penambangan meningkat terlalu cepat," ujar dia, Selasa (11/8/2026).

Di luar harga emas, investor juga perlu memperhatikan harga energi dan bahan bakar, biaya tenaga kerja, kebutuhan capital expenditure (capex), perkembangan proyek tambang baru, serta risiko regulasi dan operasional. 

Pada dasarnya, emiten emas yang sedang melakukan ekspansi perlu menjaga struktur pendanaan agar kenaikan produksi nantinya tidak justru diikuti lonjakan utang dan beban bunga. Jadi, strategi yang perlu diperkuat oleh emiten adalah meningkatkan kemampuan produksi dengan tetap menjaga AISC, disiplin capex, serta percepatan proyek yang sudah mendekati tahap komersial.

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menimpali, di atas kertas prospek kinerja emiten-emiten emas pada semester II-2026 cukup konstruktif, terutama jika harga emas bertahan di level tinggi. Namun kembali lagi, kenaikan laba bakal tetap bergantung pada volume produksi, kualitas bijih, recovery rate, dan biaya produksi, sehingga tidak semua emiten emas otomatis menikmati kenaikan earnings yang sama besar.

"Risiko utama bagi emiten berasal dari koreksi harga emas, penurunan grade, kenaikan AISC, dan keterlambatan ramp-up produksi," kata dia, Selasa (11/8/2026).

Dari situ, Harry memandang ANTM sebagai emiten produsen emas yang relatif lebih defensif dengan prospek menjanjikan. Selain itu, BRMS juga memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik jika volume produksi dan grade yang dihasilkan membaik. Ada pula MDKA dan AMMN yang terlihat lebih terdiversifikasi, sehingga kinerja mereka tidak sepenuhnya bergantung pada emas.

Lantas, sektor emas masih menarik bagi investor, namun disarankan tindakan yang lebih selektif dan tidak mengejar harga setelah rally kuat. Untuk profil investor yang lebih konservatif, Harry menyarankan saham ANTM. Di sisi lain, BRMS, EMAS, dan ARCI mampu menawarkan potensi peningkatan lebih tinggi dengan risiko operasional yang juga lebih besar.

Baca Juga: Laba Total Bangun (TOTL) Melonjak 54,6%, Ditopang Kenaikan Pendapatan di Semester I

Sementara itu, Ekky menjagokan MDKA lantaran memiliki katalis yang cukup kuat dari segmen emas, terutama mulai masuknya produksi Tambang Emas Pani dan produksi eksisting dari Tujuh Bukit. 

Di samping itu, ANTM juga menarik karena mempunyai ekosistem emas yang lebih terintegrasi dari sisi pengolahan dan penjualan retail. Kerja sama pasokan emas domestik dengan PT Freeport Indonesia juga memberikan tambahan kepastian bahan baku untuk memenuhi permintaan emas domestik. 

Tak ketinggalan, BRMS punya daya tarik untuk investor agresif karena memiliki potensi peningkatan produksi dan ekspansi kapasitas. Kapasitas pabrik emas pertama BRMS di Palu sedang ditingkatkan menjadi 2.000 ton bijih per hari, sedangkan tambang bawah tanah dengan kadar emas lebih tinggi ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2027.

Ekky merekomendasikan buy on weakness saham MDKA dengan target jangka menengah di level Rp 3.250 per saham dan target lanjutan di level Rp 3.500 per saham. Rekomendasi yang sama juga disematkan untuk ANTM dengan target awal di level Rp 3.600 per saham. 

Saham BRMS juga dapat menjadi pilihan yang lebih agresif dengan target Rp 730-Rp 760 per saham selama momentum harga emas dan pertumbuhan produksinya tetap terjaga. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×