Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas belum tentu menguat saat pasar saham bergejolak. Hal ini terlihat pada perdagangan Kamis (29/10/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), harga emas dunia, dan emas batangan Antam sama-sama melemah.
IHSG ditutup anjlok 3,49% atau 184,25 poin ke level 5.098,06. Pada saat yang sama, harga emas dunia turun 0,91% menjadi US$ 4.030 per ons troi, sedangkan harga emas Antam terkoreksi Rp 11.000 menjadi Rp 2.559.000 per gram.
Pelemahan harga emas terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 4,14% Sepekan, Simak Proyeksi Emas Antam Pekan Ini
Meski Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4%, perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral mengenai kebijakan selanjutnya masih menjadi perhatian investor.
Ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak juga dapat membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Investor kini mencermati data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS, salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Head Research Analyst sekaligus Wakil Pialang Berjangka PT Traze Andalan Futures, Kuswanto, mengatakan investor perlu memahami faktor yang menggerakkan harga sebelum mengambil keputusan investasi, terutama ketika pasar sedang bergejolak.
“Harga turun belum tentu berarti murah. Begitu juga emas, tidak otomatis naik setiap kali saham turun,” ujar Kuswanto dalam talk show Traze Andalan Futures di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 2,56% Sepekan, Berpeluang Terkoreksi Lagi?
Ia juga mengingatkan investor agar memahami risiko perdagangan emas melalui instrumen derivatif, termasuk kontrak XAUUSD. Penggunaan margin dalam transaksi tersebut dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian.
Menurut Kuswanto, investor perlu menetapkan rencana masuk dan keluar pasar serta menghitung potensi kerugian sebelum membuka posisi. Disiplin dalam mengelola risiko menjadi penting karena keuntungan dari perdagangan derivatif tidak dijamin.
Presiden Direktur PT Traze Andalan Futures, Adhy Elma Raharja, menambahkan bahwa peningkatan minat masyarakat terhadap perdagangan derivatif perlu diimbangi dengan pemahaman risiko yang memadai.
“Kami melihat minat masyarakat terhadap trading derivatif terus melonjak, namun sering kali tidak diimbangi dengan literasi yang memadai,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














