Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Kamis (29/10/2026) setelah laporan keuangan Alphabet kembali memicu kekhawatiran mengenai melonjaknya biaya kecerdasan buatan (AI). Investor juga mencermati data inflasi terbaru setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga.
Pada saat pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 389,0 poin atau 0,74% menjadi 52.086,13.
Indeks S&P 500 melemah 44,4 poin atau 0,57% menjadi 7.699,61, sedangkan indeks Nasdaq Composite turun 348,0 poin atau 1,31% menjadi 26.201,823.
Baca Juga: BEI Luncurkan Indeks Baru IDX Commodity 20, Ini Daftar Sahamnya
Saham Alphabet turun 11,5% dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar. Jika penurunan tersebut bertahan, perusahaan itu berpotensi kehilangan lebih dari US$ 450 miliar dalam nilai pasar setelah melaporkan hasil iklan mesin pencari yang mengecewakan dan lonjakan pengeluaran kas akibat percepatan belanja terkait AI.
Penurunan saham perusahaan induk Google tersebut menyumbang sebagian besar dari potensi penghapusan nilai pasar lebih dari US$ 660 miliar pada indeks Nasdaq-100 jika pelemahan saat ini bertahan.
“Dampak positif AI harus tetap bertahan selama bertahun-tahun ke depan. Jika tidak, investor Alphabet dan perusahaan penyedia layanan komputasi awan berskala besar lainnya pada akhirnya akan menilai ulang valuasi saham mereka ketika laba bersih mulai memudar,” kata Anders Bylund, analis teknologi di The Motley Fool.
Sebaliknya, saham Microsoft naik 1,8% setelah perusahaan mencatat arus kas yang jauh melampaui perkiraan dan memproyeksikan pertumbuhan bisnis komputasi awan yang kuat. Namun, kenaikan saham tersebut menyusut setelah sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Microsoft berencana menghimpun dana sedikitnya US$ 25 miliar melalui penerbitan obligasi berperingkat layak investasi pertamanya di AS dalam lebih dari sembilan tahun.
Antusiasme investor terhadap perdagangan saham terkait AI mulai mereda bulan ini akibat kekhawatiran bahwa belanja yang dibiayai utang akan semakin sulit dibenarkan ketika biaya pinjaman meningkat. Pengungkapan Anthropic pada Senin mengenai pengajuan penawaran umum perdana saham (IPO) di AS sempat memberikan kelegaan, tetapi kekhawatiran tersebut kembali muncul.
Baca Juga: Harga Emas Dunia dan Antam Ikut Melemah Saat IHSG Anjlok, Cek Pemicunya
Sementara itu, data yang dirilis pada Kamis menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) meningkat sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters. Data terpisah menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III.
“Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih sangat kuat dan tangguh, bersama dengan inflasi dan harga-harga yang semakin menjauh dari target The Fed, memperkuat perkiraan bahwa keputusan pada Oktober merupakan penundaan sementara, bukan penghentian kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi global senior di Edward Jones.
Pada Rabu, The Fed mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan. Bank sentral AS itu memilih menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan paruh waktu AS pekan depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














