Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia berpotensi melemah dalam jangka pendek, seiring tekanan jual yang membayangi pergerakan logam mulia tersebut. Meski demikian, peluang penguatan masih terbuka apabila harga mampu bertahan di area support teknikal.
Melansir Trading Economics pada Rabu (28/10) pukul 12.25 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.033 per ons troi atau melemah 0,65% secara harian dan anjlok 2,56% sepekan terakhir.
Meski demikian, Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit melihat, tren bullish masih berpeluang berlanjut jika harga emas mampu bertahan di atas area support terdekat.
Berdasarkan analisa teknikalnya, pergerakan XAUUSD pada timeframe empat jam (H4) menunjukkan indikasi perubahan tren menuju bullish. Hal ini terlihat dari keberhasilan harga emas untuk menembus zona konsolidasi US$ 3.991-US$ 4.023.
"Penembusan tersebut mengindikasikan penguatan tekanan beli dan membuka peluang bagi harga emas untuk membentuk tren kenaikan baru," ungkap Geraldo dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Japfa Comfeed (JPFA) Bagikan Dividen Interim Rp 1,05 Triliun, Cek Jadwalnya
Namun, setelah mengalami breakout, harga emas berpotensi mengalami koreksi atau pullback menuju area US$ 4.011-US$ 4.023 per ons troi.
Menurut Geraldo, zona tersebut sebelumnya menjadi area resistance selama fase konsolidasi dan kini berpeluang beralih fungsi menjadi support. Kemampuan harga bertahan di area tersebut menjadi penentu keberlanjutan momentum bullish.
Sementara itu, berdasarkan rangkuman analisis Reuters, harga emas telah mencapai resistance terdekat di US$ 4.050 dan berpotensi terkoreksi menuju support US$ 4.017. Level tersebut menjadi salah satu area yang perlu dicermati untuk melihat respons harga terhadap tekanan jual.
Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), serta imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Apabila The Fed mempertahankan suku bunga dengan pernyataan bernada hawkish, dolar AS berpotensi menguat sehingga menekan harga emas. Dalam kondisi tersebut, koreksi harga emas berpeluang berlanjut jika tekanan jual meningkat.
Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih dovish berpotensi meredakan tekanan terhadap emas. Pelemahan dolar AS dan penurunan yield US Treasury dapat mendukung daya tarik emas serta membuka peluang penguatan setelah fase koreksi berakhir.
Baca Juga: Target BEI di 2027: Transaksi Harian Capai Rp 21 Triliun, Investor Aktif 1,3 Juta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














