kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Emas Diprediksi Masih Akan Tertekan Penguatan Dolar


Selasa, 14 Juni 2022 / 17:32 WIB
Harga Emas Diprediksi Masih Akan Tertekan Penguatan Dolar
ILUSTRASI. Harga emas diprediksi masih akan tertekan.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas diprediksi masih akan tertekan. Pelaku pasar masih merasakan khawatir akan resesi yang menyebabkan risk off sentimen di pasar saham. 

Mengutip laman Logam Mulia hari ini (14/6), harga beli emas tercatat turun Rp 10.000 per gram, ke level Rp 986.000 per gram dibandingkan Senin (13/6) di level Rp 996.000 per gram.

Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 860.000 per gram. Harga tersebut anjlok Rp 18.000 dibandingkan dengan harga buyback pada Senin (13/6) yang ada di Rp 878.000 per gram.

Baca Juga: Harga Emas Antam Bisa Menyenggol Rp 1,1 Juta Per Gram dalam Jangka Panjang

Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan harga emas tahun ini sangat volatile. Setelah mencapai rekor di atas US$ 2.000 yang disebabkan oleh perang di Ukraina, harga emas terkoreksi tajam oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. 

"Emas masih akan terus tertekan oleh dolar AS, secara tradisional memang berkorelasi terbalik," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, (14/6).

Lukman mengatakan pelaku pasar masih merasakan kekuatiran akan resesi yang menyebabkan risk off sentimen di pasar saham. Hal ini mendukung penguatan dolar AS maupun emas sebagai safe haven.

Menurut Lukman dalam jangka pendek, harga emas masih akan tertekan oleh penguatan dolar.

Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok Rp 10.000 Menjadi Rp 986.000 Per Gram Pada Hari Ini (14/6)

"Untuk jangka menengah dan panjang harga emas akan naik oleh pembelian safe haven yang dipicu oleh kemungkinan besar resesi di AS dan Uni Eropa serta perang Ukraine yang berkelanjutan serta potensi perang dari eskalasi tensi China-Taiwan-US," kata Lukman. 

Lukman menegaskan resesi dan inflasi tinggi mendukung kenaikan harga emas dan permintaan fisik terutama dari China, India dan Russia yang diperkirakan akan kembali meningkat. Sementara sentimen yang dapat melemahkan harga emas berasal dari penguatan dolar AS dan tingkat suku bunga yang tinggi. 

Lukman melihat emas bisa turun hingga Rp 850.000-Rp 900.000 sebelum kembali naik hingga Rp 1,1 juta-Rp 1,2 juta per gram di akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×