Reporter: Melysa Anggreni | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sempat turun di bawah MYR 4.500 per ton pasca penerapan tarif dagang terbaru oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Meski demikian, harga CPO pada kuartal II 2025 diproyeksikan masih akan mengalami tekanan akibat dinamika pasar global.
Berdasarkan data Trading Economics, pada Rabu (3/4) sore, harga CPO berjangka Malaysia berada di level MYR 4.532 per ton, naik 0,31% dalam sehari dan 3,64% dalam sebulan.
Baca Juga: Pungutan Ekspor CPO Menguat Jadi US$ 961,54 Per Metrik Ton, Bea Keluar Tetap
Namun, analis menilai kenaikan ini belum menjadi katalis positif bagi harga CPO ke depan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa sejumlah faktor eksternal masih membebani permintaan CPO.
Eskalasi perang tarif AS, pelemahan ekonomi China, serta penundaan implementasi Undang-Undang Deforestasi Uni Eropa (EU) menjadi tekanan utama.
“Penundaan UU Deforestasi EU membuat harga CPO masih bisa bertahan di atas MYR 4.000 per ton untuk sementara waktu. Namun, ketika aturan ini diberlakukan, tekanan terhadap harga akan semakin besar,” ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (27/3).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pergerakan harga CPO di kuartal II juga akan dipengaruhi oleh kebijakan stimulus moneter China, kebijakan tarif global, produksi Indonesia, serta faktor cuaca. Pola cuaca yang buruk berpotensi memperketat pasokan dan mendorong harga naik.
Baca Juga: Harga CPO Diproyeksi Naik ke RM 4.500 Per Ton di 2025, Cek Rekomendasi Saham DSNG
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menambahkan bahwa tekanan pada permintaan CPO juga disebabkan oleh meningkatnya persaingan dengan minyak nabati lain yang lebih murah.
Pada Maret 2025, ekspor CPO Malaysia tercatat turun sekitar 8,47% dibandingkan bulan sebelumnya. Negara-negara pengimpor utama seperti India dan China beralih ke alternatif minyak nabati yang lebih terjangkau, mengurangi ketergantungan pada CPO.
“Prospek harga CPO pada kuartal II dibentuk oleh kombinasi faktor global dan domestik,” ujar Sutopo.
“Penerapan tarif AS menambah ketidakpastian perdagangan global dan bisa berdampak pada permintaan CPO di pasar utama seperti AS dan China.”
Baca Juga: Tertinggi Sejak 2023, Ekspor CPO dan Turunannya Melambung
Harapan dari Kebijakan Biodiesel B40
Dari sisi domestik, kebijakan Biodiesel B40 Indonesia diharapkan dapat meningkatkan permintaan dalam negeri, sehingga dapat mengimbangi tekanan ekspor.
“Setiap perubahan dalam regulasi ekspor atau kebijakan pasar domestik bisa berdampak signifikan pada pasokan dan harga CPO ke depan,” kata Sutopo.
Dalam proyeksinya, Sutopo memperkirakan harga CPO pada kuartal II akan berada di kisaran MYR 4.000 - MYR 4.300 per ton, dengan potensi volatilitas dalam jangka pendek.
Sementara itu, Lukman memprediksi harga CPO akan bergerak di sekitar MYR 4.000 per ton.
Selanjutnya: Alami Kenaikan Beban, Laba Bank Jatim Turun 23,98% per Februari 2025
Menarik Dibaca: 9 Rekomendasi Buah Penurun Gula Darah yang Tinggi dan Terbukti Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News