Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih bergerak di level tinggi meski mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Kenaikan harga minyak masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang berisiko mengganggu pasokan energi global.
Harga Brent bahkan sempat menembus US$ 101 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$ 97 per barel.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026) pukul 13.21 WIB, harga WTI berada di US$ 95,52 per barel, turun 0,55% secara harian. Sementara itu, harga Brent berada di US$ 100,49 per barel atau turun 0,71%.
Baca Juga: Laba Melonjak 313%, Segini Potensi Pembagian Dividen Vale (INCO)
Sebelumnya, pada pukul 08.54 WIB, harga WTI sempat menyentuh US$ 96,85 per barel, sedangkan Brent mencapai US$ 101,70 per barel.
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan geopolitik menjadi salah satu pemicu kenaikan harga minyak sekaligus memberikan tekanan terhadap rupiah.
“Beberapa fundamental yang mempengaruhi gejolak yang membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan, salah satunya adalah masalah geopolitik, baik di Eropa Timur maupun di Timur Tengah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Ibrahim juga menyoroti konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut. Serangan terhadap sejumlah fasilitas minyak Rusia menjadi salah satu faktor yang menekan produksi minyak negara tersebut.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah dan Laut Merah juga belum mereda. Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap wilayah Arab Saudi turut menambah eskalasi geopolitik di kawasan tersebut.
Selain itu, konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Serangan terhadap kapal-kapal perang Amerika di sekitar Selat Hormuz turut memperbesar ketidakpastian terhadap keamanan jalur energi.
“Di Selat Hormuz sendiri, pasukan Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal perang Amerika yang kita tahu bahwa kapal-kapal perang terjadi kerusakan yang cukup signifikan,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut berpotensi berlangsung hingga penghujung tahun. Pernyataan Iran yang belum menunjukkan keinginan menghentikan konflik serta perkiraan bahwa perang baru berakhir sekitar November atau Desember membuat risiko geopolitik masih membayangi pasar minyak.
Baca Juga: Furnace III Rebuild Rampung, Vale (INCO) Optimistis Capai Target Produksi Nikel
Jika konflik terus berlangsung hingga Desember, pasokan minyak global berpotensi menghadapi tekanan lebih panjang. Kondisi tersebut dapat mempertahankan harga minyak di level tinggi sekaligus meningkatkan risiko volatilitas di pasar keuangan.
Dengan asumsi perang berlanjut sampai akhir tahun, Ibrahim memproyeksikan harga WTI dapat mencapai US$ 108 per barel. Sementara itu, harga Brent berpotensi menyentuh US$ 115 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














