Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) optimistis dapat mengejar target produksi nikel matte sebesar 67.645 ton pada tahun 2026, yang didukung oleh tuntasnya proyek Furnace III Rebuild pada Juni 2026.
Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Abu Ashar menjelaskan penyelesaian perbaikan tungku listrik tersebut membuat INCO memiliki ruang untuk mengoptimalkan operasional produksi pada semester kedua tahun ini.
“Kami sangat optimistis di tahun ini untuk mencapai target produksi tahunan 67.645 ton metrik. Pekerjaan perbaikan sudah dilakukan, kadar nikel feeding dari mining ke pabrik cukup bagus,” katanya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Astra (ASII) Serap Capex Rp 16,9 Triliun, Mayoritas Buat Akuisisi Tambang Emas
Selain penyelesaian Furnace III Rebuild, Abu bilang kadar nikel dari kegiatan pertambangan juga menjadi salah satu faktor pendukung. Kadar nikel feeding ke pabrik pada tahun ini mencapai 1,82%, yang disebut merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Menurutnya, kadar nikel yang lebih tinggi memungkinkan proses produksi di fasilitas pengolahan berjalan lebih optimal. Pasalnya, ketika kadar nikel lebih rendah, pabrik membutuhkan volume material yang lebih besar untuk menghasilkan produk dalam jumlah yang sama.
“Kalau kadar nikel lebih rendah, tentu di pabrik kami harus memasak lebih banyak, dengan volume lebih banyak. Namun dengan kadar nikel yang cukup baik tentunya, pabrik punya potensi atau peluang untuk dioptimalkan,” ucap Abu.
Per Juni 2026, INCO telah memproduksi nikel matte sebesar 29.773 ton, yang turun 16% secara tahunan. Artinya, INCO perlu membukukan produksi sekitar 37.872 ton pada semester kedua untuk mencapai target produksi tahunan.
Abu menambahkan INCO juga telah melakukan sejumlah pekerjaan perbaikan dan persiapan operasional selama semester pertama. Dengan selesainya Furnace III Rebuild, perbaikan tersebut diharapkan dapat menopang kestabilan operasi hingga akhir tahun.
Selain mengejar produksi nikel matte, INCO juga mulai memperbesar kontribusi dari penjualan bijih nikel. Pada semester pertama 2026, penjualan bijih dari Blok Bahodopi dan Pomalaa mencapai sekitar 2,545 juta ton, meningkat 626% secara tahunan.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.500, Ekonom: Tren Bullish Belum Berkelanjutan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














