kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Gas Alam terkikis ke US$ 3,12 per mmbtu


Rabu, 08 Februari 2017 / 16:15 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pasca menyentuh level US$ 3,00 per mmbtu harga gas alam menderita koreksi. Meski demikian bukan tidak mungkin harga gas alam kembali rebound pasca rilis data stok gas alam AS besok malam.

Mengutip Bloomberg, Rabu (8/2) pukul 14.52 WIB harga gas alam kontrak pengiriman Maret 2017 di New York Mercantile Exchange terkikis 0,16% ke level US$ 3,12 per mmbtu dibanding hari sebelumnya.

“Setelah harga bergerak di atas US$ 3,00 per mmbtu wajar saja timbul pergerakan koreksi sesaat,” kata John Kilduff, Partner at Again Capital seperti dikutip dari Bloomberg.

Saat ini menurut John, support kuat harga berada di level US$ 3,00 per mmbtu dan apabila masih terjaga di atas level tersebut peluang harga untuk naik lagi masih terbuka lebar.

Namun beban koreksi bagi harga gas alam juga datang dari perkiraan cuaca Weather Company bahwa hingga pengujung Februari 2017 diduga suhu hangat masih akan membalut sebagian besar wilayah AS. Tentunya ini bisa mengikis permintaan pelaku pasar terhadap gas alam dan berimbas buruk bagi harga.

Walau di satu sisi peluang harga gas alam naik lagi juga bisa datang jika rilis data EIA menunjukkan stok gas alam AS pekan lalu benar mengempis 155 miliar kaki kubik dari pekan sebelumnya yang menurun 87 miliar kaki kubik.

“Hanya saja saat ini prediksi cuaca buruk bagi kelanjutan harga gas alam ke depannya, jika suhu udara benar menghangat maka bisa saja pekan depan harga menembus ke bawah level US$ 3,00 per mmbtu,” tebak John. Sehingga memang sekarang terjadi tarik menarik pada pergerakan harga gas alam di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×