kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

FTSE dan MSCI Masih Rem Pasar Indonesia, Asing Bakal Menjauh?


Rabu, 19 Agustus 2026 / 18:17 WIB
FTSE dan MSCI Masih Rem Pasar Indonesia, Asing Bakal Menjauh?
ILUSTRASI. FTSE Russell yang kembali menunda penambahan saham baru asal Indonesia berpotensi menahan aliran dana asing ke BEI (Omar Marques/SOPA Images via Reuters)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan penyedia indeks global, yakni FTSE Russell yang kembali menunda penambahan saham baru asal Indonesia berpotensi menahan aliran dana asing ke Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama dari investor pasif alias passive fund.

Pada 18 Agustus 2026, FTSE Russell memperpanjang penundaan penambahan saham baru dari bursa Indonesia serta sebagian besar perubahan klasifikasi indeks hingga setidaknya Desember 2026. Ini dilakukan untuk memberikan waktu pengamatan terhadap reformasi pasar.

Menanggapi pengumuman tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik bilang pihaknya akan terus menjalin komunikasi dengan seluruh Global Index Provider untuk menjawab seluruh perhatian dari investor global dan meningkatkan integritas serta governance pasar. 

“Sejak implementasi empat aksi reformasi transparansi Pasar Modal Indonesia, BEI terus melakukan continuous improvement atas reformasi transparansi tersebut,” jelasnya kepada wartawan, Rabu (19/8/2026). 

Baca Juga: Harga Emas, Perak dan Platinum Mulai Terkoreksi, Reli Logam Mulia Kehilangan Momentum

Per 15 Juli 2026, BEI menambahkan Price Impact Ratio sebagai salah satu metodologi untuk penentuan saham yang masuk dalam High Shareholding Concentration (HSC). Jeffrey bilang ini membantu efektivitas untuk meningkatkan aspek tradeability dalam proses replikasi indeks. 

“BEI juga saat ini melihat potensi untuk dapat menggabungkan informasi afiliasi dengan laporan disclosure informasi pemegang saham di atas 1% untuk meningkatkan informasi dan transparansi kepada seluruh pelaku pasar,” jelas dia. 

Pada perdagangan Rabu (19/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,86% atau 55,70 poin menjadi 6.394,13. Kondisi tersebut menunjukkan sentimen penyedia indeks global masih menjadi perhatian investor.

Apalagi, MSCI baru mengeluarkan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari MSCI Global Standard Index dalam tinjauan atau rebalancing Agustus 2026.  

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan MSCI dan FTSE Russell merupakan pintu masuk penting bagi investor global ke pasar saham Indonesia.

Baca Juga: FTSE Russell Tunda Rebalancing Saham RI, BEI Dapat Waktu Benahi Pasar

“Karena seperti yang kita ketahui, pintu masuk investor global adalah dari MSCI dan FTSE. Sehingga apabila semakin banyak saham dikeluarkan, tentu semakin sedikit dana inflow yang masuk,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). 

Menurut Nico, keputusan penyedia indeks tersebut berpotensi mengurangi daya tarik Indonesia bagi investor global karena semakin sedikit saham domestik yang memenuhi kriteria investasi mereka. 

Namun, arus modal juga dipengaruhi faktor domestik.

Nico bilang kebijakan fiskal dan moneter serta situasi politik dalam negeri turut menentukan seberapa besar investor asing bersedia mengalokasikan dananya ke pasar saham Indonesia. Karena itu, pembenahan pasar menjadi faktor penting.

“Sedikit atau banyak, kehadiran pelaku pasar dan investor asing di Indonesia memberikan dampak dan pengaruh. Ketika asing keluar, IHSG juga langsung mengalami penurunan secara dalam,” tuturnya.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menambahkan keputusan FTSE Russell memang negatif terhadap foreign flow, tetapi dampaknya perlu dibedakan antara berkurangnya aliran dana pasif dan berhentinya investor asing membeli saham Indonesia.

Dia bilang investor pasif atau index-tracking fund menjadi pihak yang paling terdampak karena memiliki mandat mengikuti indeks acuan. Penundaan perubahan indeks otomatis menghilangkan potensi permintaan mekanis terhadap saham Indonesia.

“Keputusan FTSE ini jelas menjadi sentimen negatif bagi aliran dana asing ke BEI dalam jangka pendek, tetapi jangan langsung diterjemahkan bahwa seluruh investor asing melakukan sell-off,” kata Edwin.

Baca Juga: BI Rate Tetap 5,75%, Ini Risiko yang Membayangi Rupiah

Sebaliknya, investor aktif masih memiliki keleluasaan menentukan saham berdasarkan valuasi, pertumbuhan laba, kesehatan neraca dan prospek sektor. Artinya, investor asing tetap berpeluang masuk apabila menemukan peluang investasi yang menarik.

Namun, Edwin mengingatkan persoalan dapat menjadi lebih serius apabila penundaan FTSE berlangsung hingga akhir tahun dan berjalan bersamaan dengan pembekuan perubahan indeks oleh MSCI.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berubah dari persoalan teknikal jangka pendek menjadi persoalan persepsi struktural terhadap investability Indonesia. Investor global berpotensi mempertanyakan transparansi, likuiditas, tata kelola, serta aksesibilitas pasar domestik.

“Masalahnya bukan sekadar apakah asing masih mau membeli saham Indonesia, tetapi berapa besar return premium yang harus ditawarkan Indonesia agar investor global bersedia mengambil risiko Indonesia,” ucap Edwin.

Edwin menilai status Indonesia sebagai emerging market tetap memberikan fondasi positif, tetapi status tersebut tidak otomatis menjamin kenaikan alokasi investor global. Investor tetap memiliki banyak pilihan negara dalam portofolio pasar berkembang.

Dus, Edwin menyarankan investor tidak langsung bersikap all in maupun all out. Investor jangka pendek sebaiknya menunggu konfirmasi arus dana, sedangkan investor jangka menengah dapat mencicil saham berfundamental kuat.

Bagi investor jangka panjang, Edwin menyarankan perhatian lebih besar diarahkan pada pertumbuhan laba, arus kas, profitabilitas, neraca, valuasi dan tata kelola perusahaan. Faktor tersebut tetap menjadi dasar utama dalam menentukan nilai saham.

Baca Juga: Yield SBN Melandai, Intip Proyeksi Obligasi Tenor 5 dan 10 Tahun

Sementara itu, dalam jangka panjang, Nico melihat risiko terhadap IHSG dapat semakin besar apabila Indonesia terus kehilangan daya tarik di mata investor global. Menurutnya, IHSG juga mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Nico memproyeksikan IHSG masih bergerak dalam rentang 6.390–7.470 sepanjang 2026. Investor disarankan mencermati perkembangan transformasi pasar modal Indonesia dan berbagai kebijakan yang dapat memengaruhi keputusan investor global.

“Investor sebaiknya wait and see dan memperhatikan situasi dalam negeri, terutama transformasi pasar modal yang ikut menentukan seberapa jauh capital inflow mulai terjadi,” ucap dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×