Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah mendapat respons positif dari pasar setelah BI memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada Rabu (19/8/2026). Tetapi, sejumlah risiko masih membayangi pergerakan mata uang Garuda hingga akhir tahun.
Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.840 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,12% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Penguatan rupiah terjadi usai Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpandangan keputusan BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026 ini cenderung memberikan respons netral hingga positif bagi rupiah.
Baca Juga: Yield SBN Melandai, Intip Proyeksi Obligasi Tenor 5 dan 10 Tahun
Pasar mendapatkan konfirmasi bahwa bank sentral masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar tanpa menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, posisi rupiah saat ini menunjukkan rupiah sudah membaik dari tekanan awal Agustus, sementara CDS sovereign ikut menyempit.
“Jika kenaikan suku bunga 25 bps berpotensi memperkuat rupiah lebih cepat melalui kenaikan imbal hasil relatif dan arus portofolio, tetapi biaya kredit dan yield domestik dapat tetap tinggi. Penurunan suku bunga justru berisiko memicu pelemahan rupiah bila dilakukan sebelum tekanan eksternal mereda,” ungkap Syafruddin kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).
Maka kata Syafruddin, pilihan BI yang paling tepat saat ini memang menahan suku bunga acuan di level 5,75% sambil memperkuat intervensi valas, instrumen pasar uang, dan komunikasi kebijakan. Trade-off ini menjaga kredibilitas moneter sekaligus memberi ruang bagi ekonomi riil untuk tetap tumbuh.
Syafruddin menambahkan, stabilitas rupiah tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. BI perlu mengombinasikan intervensi di pasar spot, NDF dan DNDF, pendalaman pasar valas, insentif arus portofolio, serta pengelolaan likuiditas rupiah.
Langkah tersebut penting agar tekanan nilai tukar tidak berkembang menjadi kenaikan inflasi dan premi risiko.
Baca Juga: Prospek Logam Mulia hingga Akhir 2026: Perak Berpotensi Jadi yang Paling Menarik
Dia menyebut, kondisi pasar pada 19 Agustus menunjukkan sejumlah indikator masih perlu dicermati. Yield US Treasury (UST) 10 tahun berada di sekitar 4,69%, harga Brent US$ 91,52 per barel, yield SBN 10 tahun 7,10%, dan CDS 5 tahun sebesar 84,81 basis poin.
"Akar risiko rupiah kini terutama berasal dari dolar global, harga energi, geopolitik, arus modal, serta persepsi terhadap kredibilitas fiskal," katanya.
Menurut Syafruddin, berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi rupiah melalui kebutuhan dolar untuk impor, inflasi, yield SBN, hingga keputusan investor asing. Jika tekanan berlangsung lama, kenaikan biaya pembiayaan berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap konsumsi dan investasi domestik.
Oleh sebab itu, kebijakan yang perlu ditempuh adalah mengurangi volatilitas, menjaga cadangan dan likuiditas valas, serta memastikan kebijakan fiskal tidak meningkatkan premi risiko di pasar.
Syafruddin memperkirakan rupiah masih berpeluang kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Namun, pergerakannya akan sangat bergantung pada kondisi eksternal dan kredibilitas kebijakan domestik.
Dalam skenario dasar, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 17.650-Rp 18.050 per dolar AS pada akhir 2026.
Bagi investor yang mempertimbangkan investasi ke instrumen valas di tengah rupiah yang masih cenderung lemah, Syafruddin menjawab, kondisi tersebut belum otomatis menjadi momentum terbaik untuk mengejar keuntungan dari investasi mata uang asing.
Baca Juga: Harga Emas Naik, tetapi Potensi Koreksi Jangka Pendek Masih Terbuka
Menurut dia, strategi yang lebih rasional bagi investor adalah melakukan diversifikasi secara bertahap sesuai kebutuhan lindung nilai dan horizon investasi.
Dolar AS masih menjadi pilihan defensif utama. Hal ini karena The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dan inflasi AS masih berada di atas sasaran. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS berpotensi kembali meningkat ketika pasar memasuki fase risk-off.
Sementara itu, yen Jepang dinilai memiliki prospek menengah yang menarik seiring Bank of Japan yang menargetkan suku bunga overnight sekitar 1%. Kenaikan suku bunga tersebut secara bertahap dapat mengurangi daya tarik strategi carry trade berbasis yen.
Adapun euro dapat menjadi pilihan sekunder, meski masih sensitif terhadap risiko energi dan geopolitik di Eropa.
“Trade-off utama ialah potensi capital gain versus risiko membeli valas pada harga tinggi. Untuk investor rupiah, pendekatan bertahap, diversifikasi, dan disiplin batas risiko lebih layak daripada posisi spekulatif satu arah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














