Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berujung pada blokade Selat Hormuz memicu aliran dana ke aset aman (safe haven) dan menekan nilai tukar rupiah.
Melansir data Bloomberg, Senin (13/4) pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level Rp 17.114 per dolar AS dengan pelemahan sempat menyentuh Rp 17.140 per dolar AS pada perdagangan intraday.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, volatilitas rupiah akan tetap tinggi seiring belum meredanya premi risiko perang yang tercermin pada harga minyak.
Baca Juga: Setor Modal Rp 18,75 Miliar, Prima Andalan Mandiri (MCOL) Kembangkan Usaha Baru
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlangsung hingga kuartal II 2026.
"Narasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher-for-longer terhadap kebijakan Federal Reserve kembali menguat karena risiko inflasi energi global," ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Ia memperkirakan rupiah akan bertahan di zona lemah sepanjang kuartal ini, kecuali terjadi de-eskalasi signifikan di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh sejumlah faktor fundamental.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan menekan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama di tengah pelaksanaan berbagai program strategis pemerintah.
Selain itu, penurunan cadangan devisa ke level terendah dalam dua tahun dinilai membatasi ruang intervensi Bank Indonesia di pasar valas.
Sutopo juga menyoroti penurunan indeks keyakinan konsumen sebagai sinyal awal bahwa pelemahan rupiah mulai berdampak ke sektor riil, terutama melalui kenaikan harga barang impor.
Setelah menembus level psikologis Rp 17.100 per dolar AS, rupiah dinilai masih berisiko melemah lebih lanjut.
Baca Juga: Emiten Grup Prajogo Pangestu Kantongi EBITDA US$ 421 Juta di Kuartal I-2026
Jika eskalasi konflik meningkat, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp 17.250 hingga Rp 17.380 per dolar AS pada kuartal II-2026.
Meski demikian, peluang stabilisasi tetap terbuka apabila Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang lebih kontraktif atau jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













