kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45898,78   -24,72   -2.68%
  • EMAS1.326.000 0,53%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Emiten Buyback Saham Blue Chip BBRI BBNI ADRO LPPF Di Atas Rp 1 T, Mana Yang Bagus?


Rabu, 22 Februari 2023 / 07:54 WIB
Emiten Buyback Saham Blue Chip BBRI BBNI ADRO LPPF Di Atas Rp 1 T, Mana Yang Bagus?
ILUSTRASI. Emiten Buyback Saham BBRI BBNI ADRO LPPF Di Atas Rp 1 T, Mana Yang Prospek Bagus?. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan besar mengumumkan pembelian kembali (buyback) saham blue chip di atas Rp 1 triliun. Dari deretan saham blue chip yang dilakukan buyback, saham apa yang memiliki prospek investasi bagus?

Saham blue chip yang akan dilakukan buyback antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Usai menuntaskan buyback senilai Rp 3 triliun pada akhir Januari 2023, BBRI akan menggelar aksi serupa dengan menggelontorkan dana hingga Rp 1,5 triliun.

Saham blue chip lain yang akan dilakukan buyback adalah saham BBNI. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk akan buyback saham BBNI dengan menyiapkan dana hingga Rp 905 miliar.

Saham blue chip di sektor tambang, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Tak tanggung, emiten milik Garibaldi "Boy" Thohir ini menggelar buyback dengan nilai maksimal Rp 4 triliun.

Baca Juga: Prediksi IHSG Hari Ini (22/2) Rawan Terkoreksi, 5 Saham Pilihan Ini Perlu Dipanta

Emiten ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga tak ketinggalan untuk kembali membeli sahamnya. Dalam aksi buyback saham ini LPPF menyiapkan dana hingga Rp 1 triliun.

Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto melihat, aksi buyback dilakukan untuk mengirimkan sinyal kepada pasar bahwa emiten punya prospek kinerja bisnis dan pergerakan saham yang cemerlang. Selain itu, keuangan atau kas emiten juga dalam kondisi sehat.

Dus, tak heran jika buyback saham dilakukan oleh emiten yang bisnisnya sedang moncer. Contohnya pada emiten yang terkait dengan komoditas tambang dan bank yang punya kinerja cemerlang pada tahun 2022.

"Motif buyback perusahaan besar, mereka melakukan investasi pada dirinya sendiri. Sedang ada kas berlebih dan merasa yakin kinerja perusahaan akan baik di masa mendatang," kata Fendi kepada Kontan.co.id, Selasa (21/2).

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Rentan Terkoreksi Pada Rabu (22/2)

Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, menambahkan pertimbangan buyback juga karena valuasi emiten dinilai masih murah. Aksi buyback pun pada umumnya dilakukan ketika harga saham mulai terkoreksi atau sudah dalam fase bearish.

Fendi menimpali, informasi buyback saham umumnya direspons positif oleh pasar. Tampak dari adanya kenaikan harga saham sejak ada rumor buyback hingga emiten menyampaikan pengumuman resmi. 

Hanya saja, buyback tidak berarti membawa kenaikan harga saham secara konstan. Saat periode buyback berjalan, fluktuasi akan tetap terjadi, meski dengan dinamika harga yang cenderung stabil.

"Sebesar apa pun nilainya, buyback rata-rata dilakukan secara bertahap. Jadi ada efek stabilitas harga, pasar tetap kondusif, naik-turun lebih smooth," ungkap Fendi.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,31% Selasa (21/2), TLKM, MDKA, BBNI Paling Banyak Net Buy Asing

Momentum dan Risiko

Fendi mengingatkan, momentum memiliki peran yang krusial dalam buyback saham. Supaya bisa menemukan momentum yang tepat untuk koleksi atau taking profit, investor perlu tetap cermat menggunakan alat ukur investasi.

"Tetap gunakan tools untuk melihat fundamental, valuasi, teknikal, dan sentimen sektoral. Bukan hanya mencari untung, ini sangat penting untuk risk management, memagari risiko," imbuh Fendi.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan punya catatan serupa. Menurutnya, momentum investor menjaring cuan saat buyback saham tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan teknikal. Misalnya ketika sudah ada indikasi oversold, ada golden cross pada MACD atau indikasi lainnya.

"Dari sisi fundamental, selama kondisi harga saham berpotensi undervalue dan sesuai dengan margin of safety yang investor tetapkan. maka di situlah timing untuk masuk," kata Valdy.

Baca Juga: Harga Saham TOTO Stagnan, GOTO Melemah di Perdagangan Selasa (21/2)

Di sisi lain, Roger bilang investor pun bisa memilih opsi untuk masuk ketika masa buyback selesai. Posisi ini bisa lebih mencerminkan tren dan arah pergerakan saham.

"Ada kemungkinan selepas periode buyback harga saham bisa stabil bahkan bisa cenderung naik. Apalagi jika realisasi buyback dilakukan 100% dari nilai rencana awal," ungkap Roger.

Sedangkan Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro memandang investor bisa masuk ketika buyback diumumkan secara resmi. Harapannya, ketika proses buyback berlangsung harga saham akan uptrend

"Sebelum beli sahamnya, cermati juga pola teknikal yang sedang terjadi. Kalau menunjukkan sinyal buy atau strong buy, maka layak untuk dibeli pasca tanggal buyback," ungkap Nico.

Bagi yang sudah punya, bisa hold sambil mencermati kenaikan harga berikutnya. "Untuk lebih memaksimalkan potensi profit terhadap aksi buyback, cermati juga bagaimana fundamental dan valuasi apakah sudah lebih murah dibanding peers dan rata-rata industri," imbuh Nico.

Untuk emiten-emiten yang telah dan sedang menggelar buyback, Nico merekomendasikan buy untuk saham BBNI, BBRI, dan MDKA. Sedangkan secara valuasi dan teknikal, Valdy menjagokan saham ADRO.

Dalam aksi ini, investor juga perlu mempertimbangkan periode pelaksanaan, alokasi anggaran, serta target maksimal pelaksanaan buyback. "Namun semuanya tetap kembali ke kondisi fundamental emiten. Penting untuk tidak hanya ikut-ikutan membeli saham sekadar mengikuti buyback," tandas Valdy.

Itulah rekomendasi saham blue chip yang akan dilakukan buyback pada awal tahun 2023 ini. Ingat disclaimer, segala risiko investasi atas rekomendasi saham di atas menjadi tanggung jawab Anda sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×