Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Kinerja emiten BUMN karya diperkirakan masih lanjut mengalami sejumlah tantangan, terutama dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke 5,25% per Mei 2026.
Per April 2026, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp 5 triliun, yang terdiri dari Energy & Industrial Plant 41,59%, Industry 28,79%, Infrastructure & Building 25,12%, serta Property & Investment 4,49%. Sebagai perbandingan, WIKA menargetkan nilai kontrak baru Rp 20 triliun di tahun 2026.
Emin bilang, WIKA terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, suku bunga, dan harga energi global yang berpotensi memengaruhi biaya proyek, khususnya pada komponen energi, logistik, material industri, dan peralatan konstruksi.
”Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga, WIKA menerapkan berbagai langkah mitigasi risiko, antara lain melalui efisiensi operasional, pengendalian biaya, optimalisasi arus kas, serta penguatan manajemen risiko pada proyek-proyek yang dikelola,” ungkapnya.
Sementara, ADHI hingga April 2026 mengantongi nilai kontrak baru Rp5 triliun, meningkat 99,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total perolehan tersebut, 76% berasal dari proyek pemerintah, 22% dari BUMN, dan 2% dari sektor swasta.
Baca Juga: Kinerja Emiten BUMN Karya Beda Arah Kuartal I 2026, Simak Prospeknya Tahun Ini
Rozi bilang, di tengah tantangan tahun ini, ADHI telah menyiapkan strategi dengan mengoptimalkan negosiasi pengadaan untuk memperoleh harga yang lebih efisien hingga meningkatkan efisiensi proses konstruksi dan overhead untuk mengimbangi kenaikan biaya.
“Selain itu, ADHI melakukan mitigasi melalui dokumentasi yang terstruktur untuk menjaga peluang addendum kontrak maupun klaim kepada owner,” paparnya.
David melihat, sektor konstruksi nasional memang menghadapi tantangan dinamis akibat pengetatan moneter dan fluktuasi nilai tukar global yang memengaruhi biaya dana (cost of fund) serta harga bahan baku industri.
Namun, prospek kinerja BUMN Karya di sisa tahun 2026 tetap ditopang oleh komitmen kuat dalam penyelesaian PSN secara selektif.
Menurut David, fokus emiten saat ini adalah memperkuat manajemen risiko, meningkatkan efisiensi modal, serta memilih proyek dengan tata kelola arus kas yang lebih sehat demi menjaga ketahanan bisnis di tengah dinamika makroekonomi.
“Di tengah fase konsolidasi industri dan fluktuasi IHSG saat ini, pergerakan saham sektor konstruksi saat ini cenderung mencerminkan proses restrukturisasi yang sedang berjalan,” ungkapnya.
Sukarno melihat, prospek sektor BUMN karya di sisa 2026 diperkirakan bisa membaik secara bertahap. Ini didukung oleh proyek strategis nasional, program 3 juta rumah, serta potensi efisiensi pasca konsolidasi dan penurunan beban bunga jika restrukturisasi berhasil.
Baca Juga: Cermati Kinerja Emiten BUMN di 2025 dan Saham Pilihan yang Layak Dikoleksi
Namun, tantangan utama masih berasal dari suku bunga tinggi yang menekan biaya pendanaan dan permintaan, pelemahan rupiah yang meningkatkan beban valas, margin konstruksi yang tipis, serta risiko keterlambatan pembayaran proyek.
Dari sisi saham, Sukarno menilai PTPP dinilai paling defensif dan relatif menarik, sementara ADHI masih dalam fase pemulihan bertahap.
“Untuk saat ini lebih ke wait & see terlebih dahulu mengingat harga sahamnya donwtrend dan berada di area support (antisipasi jebol support),” tuturnya.
Alhasil, baik David, Sukarno, maupun Nafan belum memberikan rekomendasi untuk saham emiten BUMN karya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













