Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN sepanjang 2025 menunjukkan tren positif, namun belum merata. Sejumlah sektor seperti perbankan dan komoditas tampil sebagai penopang utama laba, sementara sektor konstruksi dan infrastruktur masih dibayangi tekanan berat.
Di sektor komoditas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat lonjakan laba bersih signifikan hingga Rp 7,2 triliun pada 2025, naik 97,65% secara tahunan. Kinerja ini didorong kenaikan harga komoditas serta momentum hilirisasi dan transisi energi.
Sementara itu, sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi Rp 56,3 triliun, tumbuh tipis 0,93% secara tahunan, ditopang pertumbuhan kredit dan margin yang terjaga.
Baca Juga: Emiten BUMN Karya Masih Menderita, Begini Prospek Kinerjanya
Namun, tekanan masih menghantui BUMN karya. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat rugi bersih Rp 3,92 triliun, meningkat 51,71% yoy. PT PP Tbk (PTPP) bahkan mengalami lonjakan rugi hingga Rp 6,07 triliun, naik hampir tiga kali lipat.
Senada, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membukukan rugi bersih Rp 9,7 triliun, melonjak 328,30% yoy.
Secara agregat, kinerja BUMN memang terlihat kuat di level pendapatan, namun belum sepenuhnya tercermin pada profitabilitas. Analis mencatat, pendapatan emiten anggota IDXBUMN20 rata-rata tumbuh 7% yoy, tetapi laba justru turun 9% yoy.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, kinerja BUMN masih bertumpu pada perusahaan induk besar. “Laba konsolidasi BUMN mencapai Rp332 triliun, tapi 52% anak usaha masih merugi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor komoditas dan energi menjadi pendorong utama kinerja, sementara bank BUMN dan telekomunikasi cenderung defensif dan stabil.
Baca Juga: Dapat Proyek Jumbo Lagi di IKN, Begini Prospek Kinerja Emiten BUMN Karya
Pandangan serupa disampaikan Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi. Menurut dia, pada 2026 kinerja BUMN masih akan bervariasi. “Perbankan tetap unggul, sementara konstruksi dan farmasi masih tertekan restrukturisasi dan beban bunga,” katanya.













