kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45924,65   -6,71   -0.72%
  • EMAS1.319.000 -0,08%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Efek omnibus law terasa di semester II-2021, ini saham pilihan Maybank Kim Eng


Jumat, 09 Oktober 2020 / 06:45 WIB
Efek omnibus law terasa di semester II-2021, ini saham pilihan Maybank Kim Eng


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. DPR menyetujui omnibus law tentang penciptaan lapangan kerja dalam pertemuan pada tanggal 5 Oktober. Keputusan cepat itu mengejutkan karena semula pertemuan tersebut bisa menghasilkan keputusan pada 8 Oktober. 

"Kami pikir pertemuan dipercepat sebelum ada demonstrasi besar-besaran serikat buruh pada 6-8 Oktober. Tujuh partai politik yang menguasai 82% kursi parlemen mendukung omnibus law," terang Isnaputra Iskandar Analis Maybank Kim Eng dalam riset 6 Oktober 2020. Sementara itu dua lainnya yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokratyang menguasai 18% kursi memilih keluar dari rapat sidang. 

Baca Juga: Demo tolak omnibus law bisa menekan pasar saham di jangka pendek

Berdasarkan peraturan perundang-undangan Indonesia, setelah undang-undang tersebut disetujui oleh DPR maka 30 hari akan ditandatangani oleh Presiden. Bahkan saat Presiden menandatanganinya atau tidak, undang-undang tersebut tetap efektif.

Isnaputra dalam riset menjelaskan, omnibus law foreign direct investor ini akan secepatnya bisa nampak hasilnya pada semester II tahun 2021. Sebab setidaknya butuh waktu enam bulan bagi pemerintah untuk menyiapkan aturan pendukung untuk menegakkan omnibus law secara efektif.

Maybank Kim Eng menilai efek dari Omnibus Law ini akan positif dan memicu reformasi investasi secara besar-besaran di Indonesia dalam jangka menengah panjang. Tapi penerapan akan berlaku efektif jika bisa diselesaikan dalam waktu tiga bulan. "Karena itu kami melihat dampak dari foreign direct investor pada semester II tahun depan," terang Isnaputra.

Kondisi ini akan berdampak positif bagi saham-saham berikut. Yakni AKRA, ASII, BBNI, DMAS, ICBP, INCO, KLBF, PTBA, SMGR dan UNTR.

Baca Juga: Omnibus law bisa menekan kurs rupiah jelang akhir pekan

Dalam riset Maybank Kim Eng juga dijelaskan jika Omnibus Law menyederhanakan proses perizinan usaha dan berbasis risiko. Hanya yang berisiko tinggi yang memerlukan lisensi dari pemerintah. 

Undang-undang tersebut juga meningkatkan daya tawar korporasi dengan tenaga kerja mereka melalui fleksibilitas kerja yang lebih tinggi. Regulasi minimum pengupahan masih berlaku, tapi formula baru masih belum jelas. 

Badan bank tanah dan badan usaha pengelola investasi negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) akan dibentuk untuk mendukung investasi dan ekonomi. Isnaputra menekankan regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak bisa melawan kebijakan pemerintah pusat. 

Baca Juga: UU Cipta Kerja dikritik 35 investor global, ini respons kepala BKPM

Semua sektor menurut Isnaputra pada dasarnya terbuka untuk menerima investasi. "Kami pikir ini bisa menjadi positif untuk valuasi perusahaan menara telko karena akan memungkinkan lebih mudah bagi pendatang baru untuk mengakuisisi pemain yang sudah ada daripada memulai dari awal," terang dia dalam riset.
 
Dalam Undang-undang juga memberikan insentif (0% royalti) untuk perusahaan batubara yang bergerak dalam pemrosesan nilai tambah. Yakni berupa pembebasan pajak atas dividen. Dividen yang diterima oleh individu dan entitas domestik tidak akan dikenakan pajak selama mereka diinvestasikan kembali di Indonesia. 

Peraturan itu berlaku untuk dividen yang diterima dari entitas luar negeri asalkan jumlah yang diinvestasikan kembali setidaknya 30% dari pendapatan.

Perusahaan yang memiliki imbal hasil alias yield dividen menarik adalah BJBR (10,1%), DMAS (6,9%), HMSP (6,5%), INDF (4,2%), RALS (4,6%) dan PTBA (5,9%). 

Baca Juga: IHSG naik empat hari berturut-turut, berikut prediksi untuk perdagangan Jumat (9/10)

Maybank merinci beberapa saham yang disarankan adalah: 
1. AKRA ditargetkan di Rp 3.800 per saham
2. ASII ditargetkan di Rp 7.000 per saham
3. BBNI ditargetkan di Rp 6.200 per saham
4. DMAS ditargetkan di Rp 250 per saham
5. ICBP ditargetkan di Rp 11.500 per saham
6. INCO ditargetkan di Rp 5.000 per saham
7. KLBF ditargetkan di Rp 1.800 per saham
8. PTBA ditargetkan di Rp 2.450 per saham
9. SMGR ditargetkan di Rp 13.000 per saham
10. UNTR ditargetkan di Rp 29.000 per saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×