Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada Jumat (13/3/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,38% secara harian ke Rp 16.958 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,19% dari posisinya di Rp 16.925 per dolar AS pada Jumat (6/3).
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,20% secara harian ke Rp 16.934 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,08% dari posisinya di Rp 16.919 per dolar AS pada Jumat (6/3).
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan dipengaruhi sentimen eskalasi perang di Timur Tengah. Pasar terguncang oleh gangguan di pasar energi, karena Iran mulai memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut. Teheran mengatakan akan terus menyerang kapal-kapal di selat tersebut hingga penghentian permusuhan terhadap Republik Islam.
Baca Juga: Pasar Saham Jelang Lebaran Diprediksi Volatil, Investor Diminta Lebih Hati-hati
“Presiden AS Donald Trump mengklaim minggu ini bahwa perang hampir berakhir. Tetapi Iran menolak klaimnya,” ujar Ibrahim, Jumat (13/3/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa Iran yang akan memutuskan kapan konflik berakhir. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak dan gas utama untuk Asia, dengan gangguan pasokan yang berkepanjangan diperkirakan akan memiliki konsekuensi buruk bagi perekonomian yang sangat bergantung pada impor energi.
Rupiah juga dipengaruhi data Data Consumer Price Index (CPI) AS. Disebutkan bahwa CPI AS pada Februari 2026 tercatat stabil pada 2,4% secara year on year (yoy). Data tersebut sesuai ekspektasi pasar.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan rupiah sepekan ke depan masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Meski demikian, potensi pelemahan yang lebih dalam kemungkinan dapat tertahan oleh langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing maupun pasar obligasi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Sejumlah faktor juga patut dicermati terkait rupiah pekan depan. Diantaranya, Data inflasi AS (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang menjadi acuan kebijakan Federal Reserve.
“Jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat dan menekan rupiah,” ucap Amru.
Selain itu juga perlu dicermati pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) sebagai indikator kekuatan dolar di pasar global. Berikutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Serta harga minyak dunia, karena kenaikan harga energi berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Ibrahim memperkirakan rupiah sepekan ke depan dikisaran Rp 16.850 – Rp 17.150 per dolar AS. Sementara Amru memproyeksikan rupiah sepekan ke depan bergerak direntang Rp 16.850 – Rp 17.050 per dolar AS.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Makin Perkasa Tembus 100, Valas Asia Makin Tertekan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













