Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah hingga mencapai level terendah dalam tiga bulan terhadap euro pada Kamis (20/8/2026).
Tekanan terhadap dolar muncul setelah pemerintah AS berupaya meredam gejolak pasar obligasi yang dipicu kekhawatiran terhadap membengkaknya defisit fiskal.
Euro sempat menguat hingga US$ 1,171, level tertinggi sejak 14 Mei. Namun, dolar kemudian memangkas sebagian pelemahannya setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana memperbesar pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah bertenor 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$ 4 miliar setiap operasi.
Baca Juga: Dolar AS Melonjak Setelah Harga Minyak Dunia Melampaui US$ 100 Per Barel
Langkah tersebut ditujukan untuk menenangkan pasar obligasi setelah imbal hasil surat utang AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi sejak 2007.
Namun, kebijakan itu justru sempat memicu aksi jual dolar. Investor khawatir tekanan fiskal AS akan semakin besar dan berujung pada inflasi yang lebih tinggi. Kekhawatiran tersebut mendorong investor masuk ke aset seperti emas dan bitcoin yang dianggap dapat menjadi lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang.
"Jika Treasury tidak ingin pasar obligasi menanggung beban kekhawatiran soal keberlanjutan fiskal dan kredibilitas The Fed, maka dolar yang harus menanggungnya," kata Shaun Osborne, Kepala Strategi Valas Scotiabank.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, terakhir turun tipis 0,01% ke 98,82. Euro berada di US$ 1,1678, sementara yen Jepang melemah 0,38% menjadi 158,75 per dolar.
Menurut Sarah Ying, Kepala Strategi Valas CIBC Capital Markets, pasar kembali mendorong imbal hasil obligasi AS lebih tinggi meski pemerintah telah mengumumkan langkah buyback.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan Dekati Level Terendah Multi-Bulan, Pasar Tunggu Risalah The Fed
Investor menilai kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent belum cukup meyakinkan untuk meredakan tekanan di pasar. Sebelumnya, Bessent juga terlibat dalam upaya bersama Jepang pada 31 Juli untuk menahan pelemahan yen terhadap dolar.
Dari sisi moneter, perhatian investor kini tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat The Fed pada Juli menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi semakin kuat.
Beberapa pejabat bahkan mendukung kenaikan suku bunga, sementara banyak pejabat menilai kenaikan bunga diperlukan jika inflasi tidak kembali mendekati target 2%.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 35% pada September dan meningkat menjadi 68% pada Desember.
Investor juga menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole akhir bulan ini. Pasar berharap Warsh memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai strategi bank sentral dalam menghadapi inflasi yang masih tinggi.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Naik Mendekati Level Tertinggi 10 Bulan, Ini Penyebabnya
Tekanan terhadap dolar turut terlihat dari penguatan poundsterling yang naik 0,23% ke US$ 1,3634 dan sempat menyentuh US$ 1,3659, level tertinggi sejak 16 Februari.
Sementara itu, bitcoin melonjak 3,47% menjadi US$ 71.465,81, level tertinggi sejak 1 Juni. Penguatan aset kripto tersebut mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset alternatif di tengah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal dan nilai mata uang AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














