kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Reksadana Saham Berpeluang Rebound, Volatilitas Masih Membayangi


Selasa, 02 Juni 2026 / 17:47 WIB
Reksadana Saham Berpeluang Rebound, Volatilitas Masih Membayangi
ILUSTRASI. Koreksi tajam pada reksadana saham membuka peluang akumulasi secara bertahap. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen risk-off yang melanda pasar keuangan global pada Mei 2026 memberi tekanan besar terhadap kinerja industri reksadana.

Berdasarkan data Infovesta, reksadana pasar uang masih mampu membukukan imbal hasil positif sebesar 0,27% secara bulanan (month on month/MoM) pada Mei 2026. Secara akumulatif sejak awal tahun hingga Mei 2026 year to date (YtD), kinerjanya tumbuh 1,60%.

Reksadana pendapatan tetap juga masih mencatat kenaikan 0,22% secara bulanan. Namun, jika menghitung sejak awal tahun, kinerjanya masih terkoreksi 0,62%.

Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Hingga Mei Tumbuh 30%, Nilainya Capai Rp 78,09 Triliun

Sebaliknya, tekanan paling besar terjadi pada reksadana campuran dan reksadana saham. Reksadana campuran turun 5,13% secara bulanan dan melemah 8,71% secara YtD. Sementara reksadana saham mencatat penurunan terdalam dengan koreksi 10,22% pada Mei dan merosot 17,66% sejak awal tahun.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, mengatakan kinerja reksadana pada Mei masih berada dalam tekanan akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memicu meningkatnya kehati-hatian investor.

Menurut Reza, dari sisi global, pasar merespons kenaikan yield US Treasury yang bergerak di atas ekspektasi seiring tertundanya peluang pemangkasan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) dan memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Di pasar domestik, tekanan terlihat lebih dominan pada aset berisiko, terutama saham, tercermin dari koreksi IHSG yang dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan risk appetite investor asing, serta rebalancing MSCI yang memicu tekanan jual pada beberapa saham berkapitalisasi besar," ujar Reza kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: PT SMI Terbitkan Obligasi Ritel Rp 150 Miliar, DBS Jadi Penjamin Emisi Utama

Selain itu, pasar juga mencermati isu likuiditas perdagangan, tingkat free float sejumlah emiten hingga ketidakpastian kebijakan pada sektor berbasis komoditas. Faktor-faktor tersebut membuat reksadana saham dan reksadana campuran mencatat koreksi lebih dalam karena tingginya eksposur terhadap pasar ekuitas.

Di tengah tekanan tersebut, reksadana pasar uang masih menunjukkan ketahanan karena didukung oleh tingginya suku bunga domestik serta stabilitas instrumen pasar uang. 

Adapun reksadana pendapatan tetap masih mengalami volatilitas akibat pergerakan yield Surat Utang Negara (SUN), meskipun tekanan yang terjadi relatif lebih terbatas dibandingkan instrumen saham.

Menghadapi pelemahan rupiah dan volatilitas pasar, Reza sebagai manajer investasi memilih fokus menjaga kualitas portofolio dan memperkuat manajemen risiko.

Untuk instrumen pendapatan tetap, Reza menerapkan strategi pengelolaan durasi yang lebih konservatif dengan fokus pada obligasi tenor pendek hingga menengah guna mengurangi risiko kenaikan yield dan menjaga stabilitas nilai aktiva bersih (NAB).

"Pada instrumen fixed income, kami cenderung menerapkan strategi duration management secara lebih konservatif dengan fokus pada tenor pendek hingga menengah guna memitigasi risiko kenaikan yield dan menjaga stabilitas NAB," kata Reza.

Sementara pada portofolio saham, Reza lebih selektif dengan mengutamakan emiten yang memiliki visibilitas kinerja laba yang kuat, neraca keuangan sehat, arus kas solid, serta memiliki natural hedge terhadap pelemahan rupiah.

Reza menyebut sektor berbasis ekspor, sejumlah emiten komoditas, dan perusahaan yang memiliki dominasi pendapatan dalam dolar AS menjadi pilihan yang lebih menarik dalam kondisi saat ini.

Selain itu, perusahaan juga menjaga porsi kas dan likuiditas portofolio pada level yang memadai agar memiliki fleksibilitas melakukan tactical rebalancing ketika valuasi aset mulai menarik.

Menurut Reza, fokus utama saat ini bukan mengejar imbal hasil agresif dalam jangka pendek, melainkan menjaga risk-adjusted return tetap optimal di tengah ketidakpastian pasar yang masih tinggi.

Untuk Juni 2026, Reza memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut seiring pasar menunggu arah kebijakan moneter global yang lebih jelas serta stabilisasi arus dana asing ke emerging markets.

Dari sisi kinerja, reksadana pasar uang diperkirakan masih mampu mencatat return stabil di kisaran 0,25%-0,35% per bulan, didukung tingginya suku bunga deposito dan instrumen pasar uang.

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap berpotensi membukukan return sekitar 0,2%-0,7% apabila yield SUN mulai stabil dan tekanan terhadap rupiah mereda.

Adapun untuk reksadana saham dan campuran, peluang technical rebound tetap terbuka mengingat valuasi pasar saham domestik sudah berada pada level yang lebih menarik secara historis. Namun, arah pergerakannya masih akan sangat dipengaruhi oleh arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, dan perkembangan kebijakan The Fed.

Dalam jangka pendek, Reza menilai reksadana pasar uang dan pendapatan tetap masih menjadi pilihan yang menarik bagi investor konservatif hingga moderat karena menawarkan stabilitas di tengah tingginya volatilitas pasar.

Meski demikian, bagi investor dengan horizon investasi yang lebih panjang, koreksi tajam pada reksadana saham mulai membuka peluang akumulasi secara bertahap, terutama pada produk yang memiliki portofolio saham berfundamental kuat dan valuasi yang telah mengalami penyesuaian signifikan.

"Strategi yang lebih relevan saat ini bukan melakukan aggressive entry sekaligus, melainkan staggered accumulation atau bertahap untuk mengurangi timing risk di tengah pasar yang masih sensitif terhadap sentimen global dan pergerakan nilai tukar," pungkas Reza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×