Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten sektor minyak dan gas (migas) menghadapi potensi tantangan yang akan mempengaruhi kinerja tahun 2026. Arah harga minyak menjadi salah satu penentu kinerja ke depan.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, prospek kinerja emiten sektor migas masih berpeluang untuk tetap positif. Ditopang harga minyak yang masih relatif tinggi sehingga menjaga revenue dan cash flow produsen minyak.
Aktivitas jasa migas cenderung stabil mengikuti belanja eksplorasi, sementara segmen gas masih tertahan sehingga pertumbuhan sektor tidak merata.
Dia menambahkan, risiko sektor migas berasal dari potensi surplus pasokan minyak global, volatilitas harga gas, penurunan produksi lapangan tua domestik. Serta ketidakpastian kebijakan energi dan geopolitik yang dapat memicu fluktuasi harga komoditas.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham ICBP, AMRT, CMRY, dan MYOR untuk Perdagangan Rabu (18/2/2026)
“Kinerja sektor akan sangat dipengaruhi oleh arah harga minyak, kebijakan produksi global, realisasi investasi hulu domestik, pergerakan rupiah, serta disiplin capital expenditure dan struktur biaya emiten,” ucap Sukarno kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Sukarno menyebut kenaikan harga minyak meningkatkan margin dan cash flow emiten berorientasi minyak.
Sementara pelemahan harga gas menekan profitabilitas emiten berbasis gas. Akibatnya, kinerja sektor berpotensi positif namun dengan dispersion antar emiten yang lebih lebar.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, harga minyak yang menguat berdampak positif pada emiten migas menimbang kontrak yang relatif sangat pendek, di bawah 1 tahun.
Sedangkan gas, harganya cenderung lebih stabil karena durasi kontrak biasanya mencapai 10 tahun. Jadi, untuk kuartal I – 2026 harusnya positif untuk emiten migas Indonesia.
“Kinerja emiten migas pada kuartal I – 2026 diperkirakan sedikit lebih kuat dibandingkan kuartal IV – 2025 didorong penguatan harga minyak dunia sekitar 5%. Penguatan ini cukup terbatas menimbang kontribusi pendapatan dari penjualan minyak hanya sebatas sekitar 20%,” ujar Harry kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten yang Gencar Ambil Pinjaman
Harry melihat tantangan yang perlu dicermati investor terhadap emiten migas adalah penurunan volume alami pada bisnis gas sejauh sekitar 1% hingga 2% setiap tahunnya.
Oleh karena itu, emiten migas yang cukup lemah dalam melakukan inisiatif ekspansi memiliki risiko penurunan pendapatan akibat volume yang lebih rendah.
Menurut Harry, emiten yang menarik untuk dicermati adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). MEDC kini berpotensi pulih akibat profitabilitas PT Amman Mineral Internasional (AMMN) yang dipercaya akan membaik.
- Samuel Sekuritas Indonesia
- harga minyak
- rekomendasi saham
- saham MEDC
- saham ENRG
- Energi Mega Persada Tbk
- Sukarno Alatas
- Kiwoom Sekuritas
- Investasi Migas
- Kuartal I 2026
- harga minyak 2026
- Emiten migas 2026
- Prospek saham migas
- Rekomendasi saham migas
- Kinerja sektor migas
- Risiko investasi migas
- Harga gas 2026
- Analisis saham migas
- DBS Vickers Sekuritas













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)