Reporter: Nova Betriani Sinambela | Editor: Noverius Laoli
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka menambahkan faktor eksternal pergerakan rupiah adalah serangkaian data AS yang menunjukkan ekonominya tetap tangguh dan hanya sedikit melambat.
Pasar global juga masih melihat perkembangan prospek pemangkasan suku bunga yang kemungkinan tidak seagreaif sebelumnya, dipicu data inflasi yang cenderung stabil.
Dari China, pembacaan ekonomi yang lemah merusak sentimen terhadap negara tersebut. Data pada hari Senin menunjukkan neraca perdagangan China tumbuh kurang dari yang diharapkan karena pertumbuhan ekspor melambat tajam.
Baca Juga: Peran Sukuk Negara dalam Pembangunan Indonesia: Sebuah Pencapaian Dekade Terakhir
"Selain itu, pengumuman langkah-langkah stimulus fiskal baru dari Beijing juga hanya memberikan dukungan singkat, mengingat pemerintah membuat investor menginginkan beberapa rincian penting," kata Ibrahim dalam riset, Selasa (15/10).
Nanang memproyeksi rupiah besok akan diwarnai dengan sentimen pertemuan Rapat Dewan Gubernur BI mengenai suku bunga acuan. Menurutnya BI kemungkinan akan memangkas suku bunga hanya 25 basis poin.
Sedangkan Deposit Facility Rate pun diperkirakan terpangkas menjadi 5.25% dari 5.00%. Sementara Lending Facility Rate juga diperkirakan turun menjadi 6.50% dari 6.75%.
Baca Juga: Kurs Rupiah Berbalik Melemah ke Rp 15.573 Per Dolar AS, Selasa (15/10)
Oleh sebab itu, besok, Rabu (16/10), Nanang memprediksi rupiah berada pada di kisaran Rp 15.480 - Rp 15.660 per dolar AS. Sedangkan Ibrahim memprediksi mata uang akan ditutup menguat pada rentang Rp 15.530 - Rp 15.630 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News