Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 67,034 poin atau 0,94% ke 7.097,05 pada akhir perdagangan Jumat (27/3/2026). Dalam sepekan terakhir, IHSG melemah 0,56%.
Analis sekaligus VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Aud, memprediksi IHSG pada awal pekan depan atau Senin (30/3/2026) bergerak mixed cenderung melemah dalam rentang level support 6.938 dan resistance 7.260. Indikator MACD menunjukkan tren yang melemah dan RSI mendekati area oversold.
Aud melihat beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pasar. Pertama, kembali meningkatnya tensi geopolitik pasca Amerika Serikat yang kembali memperpanjang aksi terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026.
"Ditambah juga pengerahan 10.000 pasukan dan membuat IRGC memperketat terhadap kapal yang melalui Selat Hormuz. Hal ini akan berdampak negatif terhadap pasar seiring dengan dampak ekonomi yang akan lebih besar," kata Aud kepada Kontan, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga: Harga Logam Industri Variatif, Nikel dan Aluminium Menguat di Tengah Tekanan Global
Sentimen kedua, adanya kenaikan harga minyak mentah tertinggi sejak 2022. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi global seiring dengan krisis energi yang dapat terjadi, serta bank sentral berpotensi menahan suku bunga acuan sehingga dampak terhadap real market akan lebih besar.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memprediksi level support IHSG berada di level 7.005 dan 6.892, serta resistance di posisi 7.222 dan 7.482 untuk perdagangan Senin (30/3/2026).
Ada sejumlah faktor yang akan memengaruhi pergerakan IHSG. Salah satu sentimen utama masih berasal dari dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, yang mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga rata-rata berada di kisaran US$ 100 per barel.
"Kondisi ini dapat menekan risk appetite investor dan pelaku pasar," kata Nafan kepada Kontan, Minggu (29/3/2026).
Di sisi lain, pasar juga masih dibayangi oleh kekhawatiran terhadap potensi inflasi yang berlangsung lebih lama, yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi pasar saham domestik.
Nafan juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan tarif biaya ekspor batubara mulai 1 April, yang berpotensi menjadi headwind bagi emiten-emiten berbasis batubara.
Meski demikian, ia menilai sektor tersebut masih memiliki penopang apabila harga komoditas tetap bergerak dalam tren bullish consolidation, sehingga masih dapat menjadi tailwind bagi saham-saham terkait.
Baca Juga: Yield SBN Dekati 7%, Peluang Capital Inflow Bergantung Sentimen Ini
Tak hanya itu, pasar juga berpotensi dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio para fund manager setelah libur Idulfitri, yang bisa memicu perubahan arah aliran dana di pasar saham.
Rekomendasi Saham
Aud membagikan sejumlah rekomendasi saham untuk dicermati melalui analisis teknikal:
-
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
Rekomendasi: Speculative buy
Support: Rp 2.080
Resistance: Rp 2.260
-
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)
Rekomendasi: Speculative buy
Support: Rp 7.950
Resistance: Rp 9.350
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













