kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Yield SBN Dekati 7%, Peluang Capital Inflow Bergantung Sentimen Ini


Minggu, 29 Maret 2026 / 13:50 WIB
Yield SBN Dekati 7%, Peluang Capital Inflow Bergantung Sentimen Ini
ILUSTRASI. Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih cukup terbuka sepanjang 2026, meskipun imbal hasil (yield) saat ini masih bertahan di level relatif tinggi.

Belakangan yield SBN memang cenderung menanjak naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun sudah berada di level 6,84% atau mendekati 7%.

Melihat kondisi ini Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan peluang masuknya aliran dana asing (capital inflow) ke pasar obligasi domestik masih terbuka. 

Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Terus Menanjak, Kurs Rupiah Tahan Penurunan

Namun, hal tersebut sangat bergantung pada sejumlah faktor kunci. "Potensi capital inflow tetap ada, terutama jika ada kejelasan arah kebijakan, baik dari sisi fiskal maupun moneter, serta stabilitas nilai tukar yang lebih terjaga. Selain itu, daya tarik imbal hasil riil Indonesia juga masih kompetitif di antara negara emerging markets," ujar Yusuf saat dihubungi Kontan, Jumat (27/3/2026).

Meski demikian, Yusuf menilai pergerakan yield SBN ke depan cenderung tidak akan mengalami perubahan drastis dalam jangka pendek. Ia memperkirakan yield masih akan bergerak dalam kisaran tinggi dengan volatilitas yang tetap ada, khususnya pada semester I 2026. “Ruang penurunan sebenarnya ada, tetapi kemungkinan berlangsung secara bertahap,” jelasnya.

Menurut Yusuf, saat ini baseline yield sudah bergeser ke level yang lebih tinggi, tercermin dari posisi yield SBN 10 tahun yang berada di kisaran 6,8%-6,9%. 

Oleh karena itu, pergerakan pada semester I tahun ini cenderung tidak akan berubah drastis, melainkan lebih ke arah konsolidasi dengan kecenderungan turun relatif terbatas.

Secara umum, ia memproyeksikan yield SBN 10 tahun akan bergerak dalam rentang 6,5% hingga 7,0% pada semester I 2026. Dalam skenario dasar, yield diperkirakan berada di kisaran tengah, yakni 6,6%–6,9%.

Yusuf menjelaskan, terdapat faktor penahan kenaikan yield, seperti peran Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar serta mulai menariknya valuasi di level yield saat ini. Namun di sisi lain, ruang penurunan yield juga masih terbatas.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah risiko domestik, seperti persepsi terhadap kondisi fiskal, pergerakan credit default swap (CDS), serta dinamika nilai tukar rupiah yang belum sepenuhnya stabil. Ditambah lagi, ketidakpastian global juga masih membayangi pasar.

Baca Juga: WIKA Beton (WTON) Catat Penurunan Pendapatan dan Laba Sepanjang 2025

“Jika sentimen membaik dan aliran dana asing mulai kembali, yield berpotensi turun mendekati 6,5%. Sebaliknya, jika tekanan meningkat, yield masih bisa kembali mendekati 7%,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×