Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sepanjang tahun 2025 tumbuh tipis sebesar 0,31% secara year on year (yoy) menjadi Rp 7,57 triliun. Sementara pendapatan INKP justru turun 0,77% secara yoy menjadi Rp 53,02 triliun.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kinerja INKP pada 2025 masih sejalan dengan ekspektasinya. “Pertumbuhan laba di tengah penurunan pendapatan menunjukkan keberhasilan manajemen dalam menekan biaya, bukan dari ekspansi volume penjualan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, strategi efisiensi yang dilakukan INKP berperan penting dalam menjaga profitabilitas. Hal ini juga tercermin dari beban pokok penjualan yang turun 1,27% secara yoy.
Baca Juga: Direktur Samudera Indonesia (SMDR) Tambah Saham di Tengah Penurunan Harga
Namun, keberlanjutan efisiensi tersebut dinilai terbatas dalam jangka pendek. “Efisiensi ini sangat rentan terhadap volatilitas harga energi seperti batu bara dan gas, serta biaya logistik,” jelas Wafi.
Dari sisi lini bisnis, tiga segmen utama INKP yakni pulp, kertas budaya, dan kertas industri masing-masing berkontribusi lebih dari 30% terhadap total penjualan neto.
Wafi melihat segmen kertas industri memiliki prospek paling menjanjikan pada tahun 2026. Permintaan dari sektor kemasan didorong oleh pertumbuhan e-commerce serta tren penggunaan kemasan ramah lingkungan.
Sementara itu, segmen pulp dan kertas budaya diperkirakan tumbuh moderat seiring normalisasi permintaan global pasca destocking.
Dengan porsi ekspor yang besar, pergerakan nilai tukar rupiah dan harga global menjadi faktor penting bagi kinerja INKP. Wafi menilai pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan dari sisi translasi pendapatan ekspor.
“Namun, margin kotor tetap berisiko tergerus jika harga pulp global mengalami koreksi, terutama akibat perlambatan ekonomi China,” tambahnya.
Baca Juga: Buma Internasional (DOID) Tambah Kepemilikan Saham di Tambang Australia Capai 22,13%
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer juga menyebut jika kinerja INKP ditopang efisiensi, yang membantu menjaga margin. "Namun ke depan tetap akan sangat bergantung pada harga bahan baku, energi, serta optimalisasi kapasitas dari pabrik baru,” ujar Miftahul.
Miftahul menambahkan, dari sisi bisnis, segmen pulp masih sangat dipengaruhi fluktuasi harga global. Sementara kertas budaya menghadapi tekanan dari pergeseran ke arah digital.
Di sisi lain, segmen kertas industri dinilai memiliki prospek lebih stabil karena ditopang kebutuhan kemasan yang terus meningkat.
Menurut Miftahul, pergerakan nilai tukar rupiah serta harga pulp global akan menjadi katalis utama bagi kinerja INKP ke depan.
“Prospek INKP masih cukup terjaga, namun pergerakannya kemungkinan akan mengikuti dinamika siklus industri global,” jelasnya.
Meski begitu, Miftah masih merekomendasikan trading buy untuk saham INKP dengan target harga Rp 10.800 per saham. Sementara Wafi memberikan rating buy dengan target harga Rp 10.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













