kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Data AS kembali positif, USD berbalik menekan GBP


Kamis, 15 Oktober 2015 / 20:22 WIB
Data AS kembali positif, USD berbalik menekan GBP


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) USD kembali bertenaga menghadapi poundsterling setelah data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis malam ini cukup positif. Mengutip Bloomberg, Kamis (15/10) pukul 19.145 WIB, pasangan GBP/USD naik turun tipis 0,26% ke level 1,5437.

Analis SoeGee Futures, Nizar Hilmy mengatakan, pasangan GBP/USD sempat mencatat penguatan harian terbesar dalam lima bulan pada Rabu lalu. Kenaikan poundsterling di hadapan USD didukung oleh data unemployment rate Inggris bulan September yang turun tipis menjadi 5,4% dari sebelumnya 5,5%. "Data ini yang menimbulkan kembali optimisme bahwa Bank Sentral Inggris bisa menaikkan suku bunga tahun depan," ujar Nizar.

Sementara data lainnya, yakni average earnings index di level 3% berada di bawah proyeksi sebesar 3,1% meski di atas data sebelumnya yakni 2,9%. Data claimant count change juga meningkat tajam menjadi 4.600 dari sebelumnya 1.200.

Namun demikian, data ekonomi AS yang dirilis malam ini mendapat respon positif dari pelaku pasar. Di antaranya inflasi bulan September yang sejalan dengan prediksi sebesar minus 0,2% meski turun dari sebelumnya minus 0,1%. Lalu core CPI yang naik menjadi 0,2% dari sebelumnya 0,1% dan unemployment claim yang turun menjadi 255.000 dari sebelumnya 262.000.

Data tersebut menahan pelemahan USD lebih lanjut. Apalagi, ada laporan ekonomi The Fed yang menyebutkan apresiasi USD telah menekan ekonomi di negeri Paman Sam sehingga membuat upah di sebagian besar wilayah tetap rendah. "Laporan ekonomi The Fed menambah keraguan mengenai kenaikan suku bunga tahun ini," lanjut Nizar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×