kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Dana kelolaan susut, kinerja produk reksadana saham ikut terseret


Kamis, 10 Oktober 2019 / 20:01 WIB

Dana kelolaan susut, kinerja produk reksadana saham ikut terseret
ILUSTRASI. Dana kelolaan reksadana saham di bulan September turun sebesar 2,32% menjadi Rp 143,62 triliun. KONTAN/Muradi/2019/09/17


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada bulan September lalu, pasar saham cenderung turun, khususnya saham-saham blue chip. Alhasil, kinerja reksadana saham juga terdampak. Padahal, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksadana di bulan September mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Infovesta Utama, dana kelolaan reksadana saham di bulan September turun sebesar 2,32% menjadi Rp 143,62 triliun. Sementara, total dana kelolaan reksadana mencapai Rp 529,76 triliun. AUM bulan September lalu meningkat 0,62% dibandingkan bulan Agustus yang mencapai Rp 526,48 triliun. 

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, penurunan reksadana saham karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi pada bulan lalu. Akibatnya, banyak reksadana yang memiliki portofolio saham-saham blue chip menjadi ikut tertekan. Ia menilai kinerja reksadana saham memang negatif cukup dalam. Kemungkinan bulan Oktober ini masih lebih banyak sentimen negatif. 

"Saya yakin pasar saham bisa bangkit. Namun, proyeksi saya, reksadana saham bangkit di akhir tahun seperti November hingga Desember," kata Wawan kepada Kontan.co.id, Kamis (10/10).

Baca Juga: IHSG turun tipis menunggu kelanjutan negosiasi dagang

Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Panin Asset Management Rudiyanto. Penurunan dana kelolaan reksadana saham di bulan September disebabkan oleh IHSG yang menurun. Ditambah lagi, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 di bawah 5%, turut menjadi sentimen negatif.

Rudiyanto menambahkan demo yang berlangsung beberapa hari di Indonesia pada akhir bulan lalu juga turut berperan menjadi sentimen negatif.

Kondisi tersebut juga berdampak pada AUM reksadana Panin Asset Management di bulan September. Panin mencatatkan penurunan total dana kelolaan reksadana sebesar 28,96% menjadi Rp 12,37 triliun. Sedangkan, di bulan Agustus Panin AM membukukan AUM sebesar Rp 12,74 triliun. Salah satu kontributor terbesarnya ada pada dana kelolaan reksadana saham yang  turun Rp 158 miliar menjadi Rp 6,34 triliun. 

Kendati turun, Panin AM masih mendapatkan pemasukan dari peningkatan dana kelolaan exchange traded fund (ETF) yang bertambah Rp 1,86 miliar menjadi Rp 8,94 miliar.

"ETF kami naik karena kebetulan ada investor korporasi yang masuk. Memang kami ada komitmen untuk menambah dana kelolaan di situ, tapi dilakukannya secara bertahap," papar Rudiyanto.

Baca Juga: Ini Daftar Saham-Saham Menarik, Meski Harganya Sudah Melejit

Hal serupa terjadi pada Pinnacle Investment. Director and Head of Investment Pinnacle Investment Indra M. Firmansyah menyampaikan perusahaan tersebut juga mengalami penurunan di jenis produk reksadana saham. Alhasil, total dana kelolaan reksadana, termasuk advisory Pinnacle juga menurun dengan berkisar Rp 3,5 triliun. Sedangkan, produk reksadana yang meningkat di Pinnacle juga jenis ETF. 

Menurut Indra, faktor yang juga menyebabkan kinerja reksadana saham merosot adalah karena bulan September merupakan akhir dari kuartal III. Banyak institusi yang melakukan pencairan atau penjualan (redemption) untuk keperluan pembukuan atas realisasi investasi yang akan dimasukkan institusi tersebut ke dalam laporan keuangan. 

Reza Fahmi, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) juga menyatakan dana kelolaan reksadana saham tergerus karena  IHSG turun signifikan akibat efek sentimen perlambatan ekonomi, perang dagang, dan juga Brexit. 

Akan tetapi, dia mengklaim dana kelolaan reksadana perusahaannya masih stagnan dengan nilai Rp 6,8 triliun. Sementara, produk reksadana saham HPAM juga masih mendominasi pertumbuhan total AUM mereka yang mencapai Rp 3,6 triliun, hampir setengahnya dari total dana kelolaan HPAM yang sebesar Rp 6,8 triliun.


Reporter: Yasmine Maghfira
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×