kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Menilik Kinerja Emiten yang Catat Net Buy Saat Dana Asing Keluar dari Pasar Saham


Rabu, 08 April 2026 / 19:02 WIB
Menilik Kinerja Emiten yang Catat Net Buy Saat Dana Asing Keluar dari Pasar Saham
ILUSTRASI. Saham-Saham Dengan Net Buy dan Net Sell Terbesar IHSG 11 Maret 2026 (Kontan/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat masih mengakumulasi dana asing di kala net sell terjadi di pasar saham Tanah Air.

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 4,42% ke 7.279 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana asing juga tercatat berhasil masuk Rp 573,21 miliar di pasar reguler dan Rp 632,88 miliar di seluruh pasar.

Namun, IHSG masih terkoreksi 8,32% dalam sebulan. Sejalan, aliran dana asing keluar sebesar Rp 11,92 triliun di pasar reguler dan Rp26,09 triliun di seluruh pasar dalam sebulan terakhir.

Di tengah kondisi ini, masih ada emiten yang mencatatkan net buy dalam sebulan terakhir. Pertama, ada PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang mengantongi net but Rp 1,5 triliun sebulan terakhir.

Baca Juga: Intip Saham Net Buy Terbesar Asing di Tengah Tekanan pada IHSG, Senin (6/4)

Lalu, PT Adaro Andala Indonesia Tbk (AADI) dibeli asing Rp 1,4 triliun sebulan terakhir, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp 823,3 miliar, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp 673,5 miliar, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 543 miliar.

Kemudian, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat net buy Rp 398,6 miliar dalam sebulan, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 341,6 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 188,5 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 174,7 miliar, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp 130,1 miliar.

Devi Praharsa, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas melihat, akumulasi asing di saham-saham tersebut dikarenakan adanya faktor taktikal, yang mana para investor mengikuti tren harga energi global. 

Misalnya, batubara saat ini sedang menguat karena ada perubahan tren di negara-negara ekspor.

“Untuk EMAS, akumulasi yang dilakukan asing lantaran adanya ekspektasi dimulainya produksi, sehingga upside-nya bisa lebih tinggi,” katanya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing Sepekan Terakhir Jelang Libur Lebaran 2026

Analis Phillip Sekuritas, Helen Vincentia menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan akumulasi asing di sejumlah saham tersebut.

Pertama, perang Iran dengan AS-Israel yang menyebabkan harga harga minyak naik, sehingga mendorong harga komoditas batubara ikut naik. 

Kedua, sebagian negara kembali memperpanjang penggunaan pembangkit listrik batubara.

"Terakhir, ekspektasi pembagian dividen, mengingat sejumlah emiten batubara memiliki dividend payout ratio yang cukup besar,” ungkapnya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Senada, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, emiten-emiten tersebut terkait dengan komoditas emas dan batubara. Harga komoditas keduanya tengah mengalami kenaikan belakangan ini, sehingga mendorong kinerja pada sisi fundamental dan mendorong aliran dana asing masuk.

“Kemungkinan akumulasi masih akan berlanjut menimbang harga komoditas terkait menarik, sehingga narasi pertumbuhan tetap kokoh,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Prospek Dana Asing

Menurut Devi, investor asing saat ini masih sangat berhati-hati dalam menempatkan dana. Sehingga, keputusan yang diambil lebih condong pada strategi yang bersifat taktikal.

Kondisi ini dia lihat akan terus terjadi sampai ada pengumuman dari MSCI terkait isu transformasi transparansi pasar saham Indonesia.

Harry berpandangan, net sell yang terjadi pada pasar saham Indonesia secara keseluruhan merupakan masalah yang terstruktur. 

“Problemnya datang dari outlook ekonomi Indonesia yang kurang menarik, sentimen global yang mencemaskan, dan hasil penilaian yang kurang baik dari beberapa index rating provider global,” tuturnya.

Artinya, kondisi net buy di pasar saham akan bergantung pada kredibilitas fiskal serta kemampuan rupiah untuk kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Harry pun menyarankan investor untuk mencermati saham AADI, EMAS, ITMG, dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 13.800 per saham, Rp 9.120 per saham, Rp 27.000 per saham, dan Rp 2.780 per saham. Selain itu, untuk ADRO, ASII, dan UNTR target harganya masing-masing ada di Rp 3.000 per saham, Rp 7.000 per saham, dan Rp 32.760 per saham.

Baca Juga: IHSG Melonjak 2,75% ke 7.302 Usai Libur Lebaran, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing

Helen mengatakan, kinerja emiten-emiten tersebut juga masih prospektif di sisa tahun 2026. Ini lantaran masih ada sentimen positif bagi batubara, antara lain permintaan dari beberapa negara yang masih kuat, dividen yang masih menarik, serta kondisi geopolitik yang masih bergejolak. 

“Namun harga batubara memang sudah turun dari harga puncak. Jadi, investor sebaiknya lebih selektif dalam memilih,” ungkapnya.

Helen pun merekomendasikan beli untuk ASII dengan target harga Rp 7.100 per saham.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menambahkan, investor domestik harus tetap selektif terkait kinerja emiten yang tengah mencatat net buy saat ini. Sebab, prospek para emiten ke depan masih akan menghadapi banyak ketidakpastian dan tantangan.

“Kebijakan RKAB pemerintah juga akan banyak berdampak ke batubara,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Untuk tren aliran dana asing di sisa tahun 2026, tekanan net sell di pasar saham Indonesia masih bisa berlanjut dalam jangka pendek. Ini seiring kombinasi faktor geopolitik global dan faktor teknikal, seperti penyesuaian indeks.

“Kinerja fundamental emiten bukan faktor utama, tetapi memang masih ada masalah investability karena isu MSCI,” ungkapnya.

Rully pun merekomendasikan beli untuk ITMG dan ADRO dengan target harga masing-masing Rp 25.000 per saham dan Rp 3.300 per saham.

Baca Juga: Asing Net Buy Jumbo Rp 1,01 Triliun Saat IHSG Turun Kemarin, Cek Saham yang Diborong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×